Banjir bandang mematikan yang meluluhlantakkan wilayah perbatasan Nepal dan Tibet bukan sekadar bencana cuaca biasa. Para pakar geofisika dan geomorfologi dunia mengungkapkan bahwa bencana ini dipicu oleh peristiwa geofisika masif di Puncak Himalaya yang memicu “reaksi berantai mematikan”.
Profesor Goran Ekstrom dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University, menjelaskan bahwa tanah longsor skala raksasa di celah pegunungan menyapu bongkahan besar batuan dasar beserta lapisan gletser di atasnya.
Kedahsyatan Runtuhan tersebut menghasilkan energi mekanis luar biasa yang terekam pada seismograf global setara dengan gempa bumi bermagnitudo 5,2.
Tsunami Lumpur Secepat 70 Km/Jam
Runtuhnya jutaan ton batuan dasar dan gletser tersebut menghasilkan gesekan energi panas ekstrem yang mendadak mencairkan volume es secara masif.
-
Kecepatan Arus: Air bercampur puing reruntuhan meluncur melewatin lembah curam dengan kecepatan diperkirakan mencapai 70 km/jam.
-
Ketinggian Gelombang: Ketinggian dinding air banjir diprediksi mencapai 40 hingga 49 meter (setara bangunan belasan lantai).
-
Ancaman Bendungan Alami: Longsor susulan yang terjadi tiga jam kemudian menyumbat alur sungai dengan lumpur dan material vulkanik, membentuk bendungan alami yang berisiko jebol sewaktu-waktu.
Berdasarkan analisis citra satelit awal oleh Dan Shugar (University of Calgary) dan Kristen Cook (Universite Grenoble Alpes), terlihat bahwa puncak Langtang Lirung mengalami keruntuhan batuan dasar secara menyeluruh (bedrock failure) yang mengubur desa-desa di sepanjang aliran Sungai Trishuli dan Syapru Besi.
Alton Byers, pakar geografi pegunungan dari University of Colorado, menegaskan bahwa fenomena ekstrem ini merupakan sinyal nyata dari percepatan perubahan iklim (climate change).
“Semua indikator mengarah pada tren pemanasan global. Permafrost (tanah/batuan beku abadi) yang selama ribuan tahun berfungsi sebagai ‘perekat alami’ pegunungan Himalaya kini mencair dan memicu ketidakstabilan struktur batuan di dataran tinggi,” tegas Byers.
Studi dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) dan UNDP mencatat terdapat 3.624 danau gletser di kawasan Nepal, India, dan Tibet. Dari jumlah tersebut, 47 danau gletser dikategorikan sangat berbahaya dan berisiko tinggi memicu bencana serupa di masa depan.



