Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana ambisius untuk menguasai dan merevitalisasi sektor minyak Venezuela, menyusul operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat.
Dalam konferensi pers di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump menyatakan pemerintah AS akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak raksasa Amerika untuk menanamkan investasi bernilai miliaran dolar guna memperbaiki infrastruktur energi Venezuela yang telah lama terbengkalai.
Venezuela tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17 persen dari total cadangan global, melampaui Arab Saudi yang memiliki sekitar 267 miliar barel. Namun, ironisnya, produksi minyak Venezuela saat ini hanya berada di kisaran 1 juta barel per hari, anjlok tajam dari puncaknya sekitar 3,5 juta barel per hari pada era 1970-an.
Kemerosotan tersebut dipicu oleh salah urus industri, minimnya investasi jangka panjang, serta tekanan sanksi internasional yang selama bertahun-tahun membelit negara Amerika Selatan itu.
Raksasa Minyak AS Bersiap Masuk
Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak Amerika Serikat yang masih memiliki operasi terbatas di Venezuela. Chevron menyatakan tetap memprioritaskan keselamatan karyawan dan perlindungan aset sembari mencermati dinamika politik pascaoperasi militer AS.
Sementara itu, ConocoPhillips, yang memiliki piutang lebih dari US$10 miliar terhadap Venezuela, mengaku terus memantau perkembangan situasi. Analis energi Francisco Monaldi dari Baker Institute Universitas Rice menilai Chevron berada pada posisi paling diuntungkan, namun peluang kembali terbuka lebar bagi perusahaan lain.
“Perusahaan yang kemungkinan besar sangat tertarik untuk kembali adalah Conoco, karena mereka memiliki piutang lebih dari US$10 miliar,” ujar Monaldi.
Selain Conoco, raksasa energi lain seperti ExxonMobil juga dinilai berpotensi kembali menancapkan investasinya jika kondisi politik dan regulasi memungkinkan.
Tantangan Besar Pemulihan Industri Minyak
Meski peluang terbuka lebar, para analis mengingatkan bahwa pemulihan sektor minyak Venezuela tidak akan berlangsung cepat. Peter McNally dari Third Bridge menyebutkan dibutuhkan puluhan miliar dolar untuk membalikkan kerusakan struktural industri minyak negara tersebut.
Perusahaan minyak nasional Venezuela, PDVSA, bahkan mengungkapkan bahwa sebagian besar jaringan pipa belum diperbarui selama hampir 50 tahun, dengan estimasi biaya pemulihan mencapai US$58 miliar.
Analis pasar energi Phil Flynn dari Price Futures Group menilai kehancuran industri minyak Venezuela tak lepas dari kebijakan pemerintahan sebelumnya.
“Rezim Maduro dan mantan Presiden Hugo Chavez pada dasarnya telah menjarah industri minyak Venezuela,” ujarnya.
Meski demikian, para pakar menilai dampak langsung terhadap pasar minyak global masih terbatas, mengingat pasokan minyak dunia saat ini berada dalam kondisi relatif berlebih.
Trump menegaskan bahwa embargo minyak terhadap Venezuela tetap diberlakukan, dan pasukan militer AS akan tetap siaga hingga seluruh tuntutan Washington dipenuhi sepenuhnya.