Momen ajang Jakarta Running Festival (JRF) 2026, Sabtu (24/10/2026), diwarnai polemik usai sejumlah pelari protes akibat terkena Cut Off Point (COP) di kategori Half Marathon (21,1 km). Menanggapi riak tersebut, praktisi kesehatan sekaligus pencinta olahraga lari, Dokter Tirta Hudhi, melontarkan kritik menohok kepada para peserta yang mempersoalkan aturan batas waktu perlombaan.
Sejumlah pelari menyuarakan kekecewaan lantaran tertahan di corral 8 dan baru melintasi garis start 27 menit setelah bendera flag-off diangkat. Mereka menuntut panitia memberikan kompensasi waktu atas keterlambatan pelepasan corral tersebut.
Lewat unggahan tajam di akun Instagram resminya, Dokter Tirta meminta para pelari membiasakan diri membaca dan memahami regulasi lomba (race rules) sebelum mendaftar, ketimbang menyalahkan penyelenggara saat gagal mencapai target.
“Katanya, ‘Saya di corral 8 telat 27 menit, harusnya panitia kompensasi ya, kami kan pelari pelan harusnya ditaruh corral 1.’ Woy! Kamu tuh harusnya baca dulu peraturannya! JRF itu sudah membuat edukasi dari tiga tahun lalu soal beda COP dan COT di Instagram,” sergah Dokter Tirta dalam unggahannya.
Edukasi Gun Time vs Net Time: “Tokyo Marathon Lebih Kejam!”
Dokter Tirta menjelaskan bahwa batas waktu evaluasi di setiap titik rute (COP) dihitung berdasarkan gun time—yakni waktu resmi yang berjalan sejak perlombaan dilepas secara masal—bukan berdasarkan waktu perorangan melintasi garis start (net time).
Standar perhitungan ini beroperasi secara universal di mayoritas ajang maraton kelas dunia.
“Apakah di maraton internasional lain seperti itu? Iya! Di luar negeri seperti Tokyo Marathon bahkan lebih kejam, disapu pakai bus! Di gate langsung ditutup. Kalau kalian memang enggak mau ribet, ya pilih event lain. Enggak mau diatur, ya lari sendiri. Simpel!” tegasnya.
Ia juga menyindir narasi sebagian peserta yang menuntut pengembalian uang pendaftaran (refund) lantaran dihentikan petugas di titik COP.
Semprit Pelari Terobos Garis COP: “Bukan Protes, tapi Latihan Lagi!”
Kritik keras Dokter Tirta semakin memuncak merespons adanya oknum pelari yang dilaporkan nekad menerobos barikade petugas COP di lintasan demi mengejar medali penamat (finisher medal). Menurutnya, gagal menuntaskan Half Marathon di bawah batas waktu (rata-rata 3,5 jam) harus dijadikan cermin evaluasi fisik perorangan.
“Ya enggak tahu tuh yang nerobos-nerobos COP demi medali. Kalau kamu masih finish HM-nya di atas 3,5 jam atau kesapu COP, PR kamu cuma satu: bukan protes ke panitia, tapi latihan lagi!” pungkasi Dokter Tirta.
Insiden di JRF 2026 ini kembali membuka diskusi hangat di kalangan komunitas lari Indonesia mengenai pentingnya etika berlomba (race etiquette), pemahaman regulasi event, hingga kesiapan fisik secara matang sebelum menjajal kategori jarak jauh.