JAKARTA – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera sejak akhir November 2025 terus menelan korban. Hingga Sabtu (30/11/2025) malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 442 orang meninggal dunia dan 402 lainnya masih hilang.
Presiden Prabowo Subianto terbang ke Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada Senin pagi untuk meninjau wilayah terdampak paling parah dan menjanjikan percepatan penanganan meski banyak akses terputus.
Rincian korban meninggal dunia:
- Sumatera Utara: 217 jiwa
- Sumatera Barat: 129 jiwa
- Aceh: 96 jiwa
BRIN Kerahkan Satelit Radar dan Tim Medis
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membentuk Task Force Penanggulangan Bencana . Tim ini mengerahkan seluruh kemampuan riset dan teknologi untuk mendukung operasi darurat.
Salah satu kontribusi utama adalah pemetaan cepat menggunakan satelit radar Sentinel-1 yang mampu menembus awan dan hujan lebat. Peta banjir terkini di Aceh dan Sumatera Utara telah diserahkan kepada BNPB, pemerintah daerah, serta komunitas geospasial.
BRIN juga mengirimkan Unit Air Siap Minum (Arsinum), tenaga medis, psikolog, serta pakar kesehatan lingkungan untuk memperkuat respons tanggap darurat.
Siklon Tropis Senyar Picu Hujan Ekstrem hingga 310 mm per Hari
Siklon Tropis Senyar yang terbentuk dari bibit siklon 95B di Selat Malaka pada 26 November 2025 menjadi pemicu utama hujan ekstrem. BMKG mencatat curah hujan tertinggi mencapai 310,8 mm/hari di Aceh Utara dan 262,2 mm/hari di Medan.
Ketiga provinsi terdampak telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, berlaku 27–28 November hingga 8–11 Desember 2025.
Pemerintah pusat dan daerah terus berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi korban, membuka akses logistik, dan mencegah jumlah korban bertambah.
Situasi di lapangan masih sangat dinamis, sementara prakiraan cuaca menunjukkan potensi hujan berintensitas tinggi dalam beberapa hari ke depan.