JAKARTA – TNI Angkatan Laut (TNI AL) mulai mempersiapkan langkah strategis menjelang kedatangan kapal induk Giuseppe Garibaldi yang akan dihibahkan Italia kepada Indonesia. Sebanyak 100 prajurit disiapkan untuk berangkat ke Italia pada Juli 2026 guna mempelajari sistem operasional kapal perang terbesar yang nantinya akan memperkuat armada pertahanan maritim nasional.
Langkah ini menjadi bagian penting dari proses transisi dan alih pengetahuan sebelum kapal induk tersebut resmi bergabung dengan kekuatan TNI AL. Kehadiran *Giuseppe Garibaldi* dipandang sebagai tonggak baru modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia sekaligus memperluas kemampuan proyeksi kekuatan maritim di kawasan.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengatakan, pihaknya telah menyiapkan personel yang akan bertugas sebagai pengawak pendahulu sekaligus tim persiapan operasional kapal.
“Untuk kesiapan mengawaki kapal induk, kita menyiapkan 100 orang, nanti terdiri dari satgas dan dari pengawak pendahuluan,” ujar Ali di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Menurut Ali, para prajurit tersebut diharapkan dapat diberangkatkan ke Italia pada 10 Juli 2026. Selama berada di negara asal kapal tersebut, mereka akan menjalani berbagai pelatihan teknis dan operasional guna memahami sistem kapal secara menyeluruh sebelum nantinya dioperasikan di Indonesia.
Langkah Awal Penguasaan Teknologi Kapal Induk
Pengiriman personel ke Italia dinilai sebagai tahap krusial dalam memastikan proses transfer kemampuan berjalan optimal. Selain mempelajari pengoperasian kapal, para prajurit juga akan mendalami aspek pemeliharaan, sistem navigasi, pengendalian tempur, hingga prosedur keselamatan yang berlaku di kapal induk.
Keberhasilan proses ini akan menentukan kesiapan Indonesia dalam mengoperasikan kapal induk pertamanya, sebuah kemampuan yang selama ini belum dimiliki oleh TNI AL.
Meski demikian, Ali menegaskan bahwa rencana pemberangkatan tersebut masih menyesuaikan perkembangan proses hibah dan jadwal kedatangan kapal ke Indonesia.
TNI AL berharap kapal induk itu dapat tiba di Tanah Air sebelum peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026.
Nama Kapal Masih Menunggu Keputusan Presiden
Selain mempersiapkan aspek operasional, TNI AL juga mulai memikirkan identitas baru bagi kapal induk tersebut setelah resmi menjadi bagian dari armada Indonesia.
Saat ini, nama *Giuseppe Garibaldi* diambil dari tokoh pemersatu Italia pada abad ke-19 yang dikenal sebagai salah satu bapak bangsa negara tersebut. Namun, setelah proses akuisisi rampung, kapal itu kemungkinan akan menggunakan nama yang merepresentasikan sejarah dan kebesaran bangsa Indonesia.
Beberapa nama telah muncul sebagai usulan, termasuk Mahapatih Gadjah Mada dan Panglima Besar Jenderal Soedirman.
“Memang salah satunya itu, salah satu usulannya. Ada Gadjah Mada, ada Panglima Soedirman, ada mungkin yang lain,” kata Ali.
Meski demikian, KSAL menegaskan belum ada keputusan final terkait nama kapal induk tersebut.
“Kami menunggu. Mungkin dari Bapak Presiden atau dari Pak Menhan akan memberikan usulan namanya,” jelasnya.
Keputusan penamaan kapal diperkirakan akan menjadi perhatian tersendiri mengingat kapal ini akan menjadi simbol baru kekuatan laut Indonesia di kawasan Indo-Pasifik.
Poses Hibah Masuki Tahap Persiapan Pengiriman
Sementara itu, Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan proses hibah kapal induk asal Italia tersebut terus berjalan dan kini memasuki tahap persiapan pengiriman ke Indonesia.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Rico Sirait mengatakan seluruh proses administrasi dan teknis tengah diselesaikan agar kapal dapat segera diberangkatkan.
“Kapal induk Garibaldi itu proses hibah, sedang berjalan dan sudah dalam proses tahapan untuk persiapan pengiriman ke Indonesia,” ujar Rico.
Ketika ditanya mengenai target kedatangan kapal di Indonesia, Rico berharap seluruh tahapan dapat diselesaikan pada tahun ini.
“Mudah-mudahan tahun ini,” katanya.
Namun demikian, Kemhan mengakui situasi geopolitik global menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi jadwal pengiriman.
“Ya dengan kondisi Selat Hormuz, yang konflik juga di sana ya, jadi mungkin ada keterbatasan distribusi, waktu pengiriman dan sebagainya,” ungkap Rico.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa jalur pelayaran internasional yang digunakan untuk pengiriman kapal masih sangat bergantung pada stabilitas keamanan kawasan.
Kapal Induk yang Akan Mengubah Wajah Armada TNI AL
Masuknya *Giuseppe Garibaldi* diperkirakan akan menjadi salah satu penguatan terbesar dalam sejarah modern TNI AL. Kapal ini memiliki panjang sekitar 180,2 meter dan mampu melaju hingga 30 knot atau setara sekitar 56 kilometer per jam.
Selain berfungsi sebagai kapal komando dan pusat operasi maritim, kapal tersebut juga dilengkapi berbagai sistem persenjataan dan pertahanan modern. Di antaranya peluncur oktupel Mk.29 untuk rudal antipesawat Sea Sparrow atau Selenia Aspide, meriam kembar Oto Melara 40L70 DARDO, tabung torpedo rangkap tiga kaliber 324 mm, hingga rudal antikapal Otomat Mk 2 SSM.
Kombinasi kemampuan tersebut membuat kapal ini tidak hanya berfungsi sebagai platform tempur, tetapi juga dapat mendukung operasi pengamanan wilayah laut, bantuan kemanusiaan, evakuasi warga negara, hingga operasi gabungan lintas matra.
Babak Baru Kekuatan Maritim Indonesia
Rencana kedatangan *Giuseppe Garibaldi* menandai fase baru dalam pembangunan kekuatan pertahanan laut Indonesia. Di tengah meningkatnya dinamika keamanan kawasan dan pentingnya perlindungan jalur perdagangan internasional, keberadaan kapal induk dinilai dapat memperluas daya jangkau operasi TNI AL sekaligus meningkatkan efek tangkal nasional.
Pengiriman 100 prajurit ke Italia menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak hanya menerima alutsista baru, tetapi juga berupaya membangun kapasitas sumber daya manusia agar mampu mengoperasikan teknologi pertahanan berkelas dunia.
Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, tahun 2026 akan menjadi momen bersejarah bagi TNI AL dengan hadirnya kapal induk pertama yang siap memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim terbesar di kawasan.