JAKARTA — TNI Angkatan Laut (AL) menegaskan kegiatan passing exercise (passex) yang akan dilakukan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 bersama Angkatan Laut China atau People’s Liberation Army Navy (PLAN) bukan merupakan latihan perang. Penegasan itu disampaikan setelah Pemerintah Taiwan mengecam rencana kegiatan tersebut di perairan sebelah timur Taiwan.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Pertama TNI Tunggul menjelaskan, KRI I Gusti Ngurah Rai-332 saat ini dalam perjalanan kembali ke Indonesia setelah mengikuti Orruda 2026 di Vladivostok, Rusia. Dalam pelayaran pulang tersebut, kapal perang Indonesia akan melakukan latihan bersama secara terbatas dengan sejumlah angkatan laut negara yang dilintasi.
Menurut Tunggul, negara-negara yang akan menjadi mitra dalam kegiatan *passing exercise* tersebut antara lain Jepang, China, serta Armada Ketujuh Angkatan Laut Amerika Serikat.
“(Dalam perjalanan pulang ini, KRI I Gusti Ngurah Rai) akan melaksanakan latihan bersama secara terbatas atau passing exercise dengan Angkatan Laut sejumlah negara yang dilintasi, termasuk Jepang, Tiongkok, dan Armada Ketujuh Angkatan Laut Amerika Serikat,” kata Tunggul dalam siaran pers, Rabu (12/8/2026).
Tunggul menjelaskan, passing exercise merupakan kegiatan yang lazim dilakukan oleh angkatan laut berbagai negara ketika kapal perang melintas di wilayah perairan tertentu. Kegiatan tersebut tidak dirancang sebagai latihan tempur maupun persiapan peperangan.
“Passing exercise yang dilaksanakan bukan bersifat war fighting,” tegasnya.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut lebih diarahkan untuk membangun komunikasi dan hubungan antarmiliter laut. Interaksi itu juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kepercayaan dan hubungan baik antarnegara.
“Passing exercise merupakan bentuk interaksi untuk membangun komunikasi, kepercayaan, hubungan baik, dan semangat persahabatan antar angkatan laut, sekaligus mendukung diplomasi maritim Indonesia,” ujar Tunggul.
Penjelasan TNI AL tersebut disampaikan setelah Pemerintah Taiwan menyatakan keberatan terhadap rencana latihan bersama terbatas antara Indonesia dan China di sekitar perairan sebelah timur Taiwan.
Dewan Urusan Daratan Taiwan atau Mainland Affairs Council sebelumnya menyebut kegiatan tersebut sebagai “provokasi militer”. Taipei juga mendesak Beijing menghentikan aktivitas yang dinilai berpotensi mengganggu status quo di kawasan.
Taiwan menilai kegiatan tersebut dapat menciptakan kesan bahwa China memiliki yurisdiksi atas perairan yang berada di sekitar Taiwan.
Namun, TNI AL menegaskan kegiatan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 tidak diarahkan untuk kepentingan latihan tempur. Tunggul menyebut *passex* merupakan bentuk interaksi yang umum dilakukan angkatan laut di berbagai negara.
“Passex ini juga merupakan *goodwill engagement* yang umum dilakukan angkatan laut di dunia sebagai wujud *naval brotherhood* serta diplomasi maritim yang melekat pada kapal perang,” jelasnya.
Ia menambahkan, pelaksanaan *passing exercise* dengan sejumlah negara juga tidak terlepas dari prinsip politik luar negeri bebas aktif yang dijalankan Indonesia. Prinsip tersebut, kata dia, memberikan ruang bagi Indonesia untuk membangun kerja sama dengan berbagai negara.
“Politik luar negeri Indonesia bebas aktif memberikan peluang kerja sama menguntungkan dengan negara manapun, termasuk giat passex (*passing exercise*) dengan sejumlah negara,” kata Tunggul.
Menurut dia, kegiatan tersebut sekaligus mencerminkan komitmen Indonesia untuk membangun hubungan persahabatan dengan berbagai negara serta ikut menjaga keamanan dan stabilitas maritim.
“Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen Indonesia untuk memperkuat persahabatan serta turut menjaga keamanan, stabilitas maritim, dan perdamaian dunia,” tuturnya.
Kemlu: Passex Bagian dari Diplomasi Maritim
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI juga memberikan penjelasan serupa terkait kegiatan KRI I Gusti Ngurah Rai-332. Juru Bicara Kemenlu RI Yvonne Mewengkang menyatakan kegiatan tersebut merupakan praktik yang lazim dilakukan antarangkatan laut ketika kapal melintasi suatu kawasan.
“Ini adalah latihan bersama secara terbatas atau *passing exercise* dengan angkatan laut sejumlah negara yang dilintasi. Passing exercise bukanlah latihan tempur,” ujar Yvonne dalam konferensi pers di Kantor Kemenlu, Jakarta Pusat, Kamis (13/8/2026).
Yvonne mengatakan, interaksi antarangakatan laut melalui passing exercise juga memiliki fungsi diplomasi. Kegiatan tersebut dapat digunakan untuk membangun komunikasi dan kepercayaan di antara negara-negara yang terlibat.
“Dan laut itu bukan hanya ruang yang menghubungkan negara-negara tapi juga adalah ruang untuk membangun kerja sama dan rasa saling percaya,” kata dia.
Ia menegaskan Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif dalam membangun hubungan dengan berbagai mitra. Karena itu, kerja sama dengan negara lain tetap terbuka selama dilakukan dalam kerangka hubungan yang konstruktif.
“Kita tentunya selalu terbuka untuk bekerja sama dan membangun hubungan yang konstruktif dengan berbagai negara mitra,” tuturnya.
Dengan demikian, TNI AL dan Kemenlu sama-sama menegaskan bahwa kegiatan KRI I Gusti Ngurah Rai-332 bersama sejumlah angkatan laut negara lain, termasuk China, merupakan *passing exercise* terbatas dalam perjalanan kembali ke Indonesia, bukan latihan perang atau war fighting.



