JAKATA – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono melakukan kunjungan ke Wageningen University and Research (WUR) di Belanda untuk memperkuat kerjasama dalam riset dan teknologi pertanian. Tujuan utama kunjungan ini adalah untuk mendukung transformasi sektor pertanian Indonesia, mengurangi ketergantungan impor pangan, serta meningkatkan kesejahteraan petani.
Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta pada Jumat (2/5/2025), disebutkan bahwa Wamentan didampingi oleh Rektor IPB University Arif Satria dan perwakilan dari Kementerian Pertanian serta Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kunjungan yang berlangsung pada Kamis (1/5) tersebut merupakan bagian dari misi besar pemerintah Indonesia untuk memperkuat kolaborasi internasional di bidang pertanian.
“Kami berada di Wageningen University and Research, universitas terbaik dunia dalam bidang pertanian. Bersama Prof. Arif Satria dan tim, kami mencari solusi atas berbagai tantangan pangan dan pertanian di Indonesia,” ujar Wamentan.
Wamentan menegaskan bahwa tujuan dari kunjungan ini adalah untuk mengeksplorasi serta mengadopsi teknologi pertanian terbaru yang sesuai dengan kondisi di Indonesia. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, mengurangi ketergantungan impor, dan tentunya meningkatkan kesejahteraan petani.
Lebih lanjut, Wamentan menyampaikan pentingnya pencarian solusi teknologi yang dapat mendongkrak kesejahteraan petani, meningkatkan produktivitas nasional, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan. Ia menambahkan bahwa langkah ini akan mendukung Indonesia dalam mewujudkan swasembada pangan dan memperkuat kedaulatan negara di sektor pangan.
“Kami ingin segera mewujudkan swasembada pangan dan menjadikan Indonesia negara yang benar-benar berdaulat dalam bidang pangan,” tegasnya.
Selama dialog dengan para peneliti WUR, Wamentan juga mengangkat isu mengenai produktivitas kedelai, komoditas yang hingga kini masih sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Indonesia tidak bisa terus bergantung pada kedelai impor. Kita butuh terobosan teknologi agar petani bisa memproduksi kedelai lebih efisien dan berdaya saing,” kata Wamentan.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas pula berbagai potensi kerja sama, seperti pengembangan varietas kedelai unggul yang tahan terhadap iklim tropis, penerapan sistem pertanian presisi berbasis data dan kecerdasan buatan, serta model pertanian berkelanjutan untuk meningkatkan efisiensi input dan hasil panen. Selain itu, rencana pertukaran peneliti dan pelatihan teknis bagi petani dan akademisi Indonesia juga menjadi bagian dari kolaborasi ini.
“Kerja sama ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga untuk memperkuat sistem riset, inovasi, dan pendidikan pertanian di Indonesia,” kata Wamentan.
Ia juga menekankan bahwa Wageningen University memiliki keunggulan dalam agroteknologi dan riset terkait pertanian tropis, yang diharapkan dapat membantu Indonesia mempercepat swasembada pangan dan membangun sektor pertanian berbasis sains dan teknologi.
Wamentan menutup kunjungannya dengan menyatakan bahwa Kementerian Pertanian terbuka untuk semua bentuk inovasi dan kemitraan yang bisa mendorong pertanian Indonesia menuju kemandirian, modernisasi, dan daya saing global.
“Kunjungan ini menjadi simbol kuat bahwa pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dalam menghadapi tantangan krisis pangan, ketergantungan impor, dan meningkatkan kesejahteraan petani,” pungkas Wamentan.