GAZA – Ketegangan di Jalur Gaza kembali memuncak setelah serangan udara terbaru Israel menghantam kompleks Gereja Keluarga Kudus, salah satu situs Katolik tertua di wilayah itu.
Seperti diwartakan CBC, serangan ini menyebabkan tiga orang tewas dan beberapa lainnya terluka.
Insiden ini terjadi di tengah gelombang serangan militer yang menewaskan sedikitnya 27 warga sipil pada Kamis (17/7), termasuk para relawan yang tengah mengawal bantuan kemanusiaan.
Gereja Keluarga Kudus di Gaza dikenal sebagai salah satu tempat yang kerap dijadikan perlindungan oleh warga sipil saat konflik.
Dalam pernyataan resmi, Patriarkat Latin Yerusalem menyampaikan kecaman keras atas serangan tersebut, menyebutnya sebagai penargetan terhadap “warga sipil tak berdosa dan tempat suci”.
Mereka juga mengungkap bahwa korban di dalam gereja datang untuk mencari perlindungan karena kehilangan rumah dan harta benda akibat pertempuran yang berkepanjangan.
Foto-foto yang dirilis memperlihatkan kondisi mengenaskan di lokasi kejadian—atap gereja hancur di dekat salib utama, dinding batu hangus terbakar, dan kaca jendela pecah.
Di tengah keprihatinan global, Paus Leo menyampaikan belasungkawa melalui telegram, menyebut dirinya “sangat sedih” dan menyerukan “gencatan senjata segera.”
Pesan tersebut ditandatangani oleh Kardinal Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan.
“Perang mengerikan ini harus diakhiri sepenuhnya,” tulis pernyataan resmi Patriarkat.
Salah satu korban luka adalah Pastor Gabriel Romanelli, pastor paroki asal Argentina yang selama ini menjadi penghubung langsung dengan mendiang Paus Fransiskus.
Menurut rekaman dari rumah sakit, Romanelli hanya mengalami luka ringan dan masih bisa berjalan meskipun kakinya diperban.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) merespons dengan menyatakan tengah menyelidiki insiden tersebut.
“IDF melakukan segala upaya yang memungkinkan untuk mengurangi kerugian pada warga sipil dan struktur sipil, termasuk situs keagamaan,” ujar mereka.
Kementerian Luar Negeri Israel juga menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menargetkan rumah ibadah.
Namun reaksi keras datang dari sejumlah pihak internasional. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, secara tegas mengutuk Israel.
“Serangan terhadap penduduk sipil yang telah dilakukan Israel selama berbulan-bulan tidak dapat diterima. Tidak ada tindakan militer yang dapat membenarkan sikap seperti itu,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Selain gereja, rentetan serangan Israel juga menghantam wilayah padat penduduk lain di Jalur Gaza.
Di kawasan Jabalia, satu keluarga yang terdiri dari seorang pria, istri, dan lima anak mereka dilaporkan tewas.
Serangan lainnya di wilayah utara menewaskan delapan relawan pengawal truk bantuan.
Di Gaza tengah dan Zeitoun, tujuh orang dikonfirmasi meninggal dunia akibat gempuran udara.
Seruan untuk segera menghentikan kekerasan kini menggema dari berbagai penjuru dunia, seiring dengan meningkatnya korban sipil dan rusaknya infrastruktur vital, termasuk tempat ibadah.***