BANDUNG – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI, Stella Christie, menegaskan bahwa perguruan tinggi memegang peran strategis dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional melalui hilirisasi riset yang terintegrasi dengan dunia industri.
Menurutnya, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan maksimal tanpa kontribusi langsung dari universitas.
“Sains dan teknologi tidak bisa berkembang tanpa universitas. Hanya jika kita melakukannya di pendidikan tinggi, kita akan mendorong kembang ekonomi negara ini,” ujar Stella.
Hal tersebut ia sampaikan dalam pidato berjudul Higher Education is the Key to Economic Growth pada Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2025 di Institut Teknologi Bandung, Jumat (8/8/2025).
Stella mencontohkan model keberhasilan global seperti Stanford University di Amerika Serikat, yang sejak 1930 telah memicu lahirnya lebih dari 40 ribu perusahaan, menciptakan 5,4 juta lapangan kerja, dan menghasilkan keuntungan ekonomi senilai 2,7 triliun dolar AS.
Capaian tersebut, kata Stella, menjadi bukti nyata bahwa kampus mampu menjadi motor penggerak perekonomian.
Ia menjelaskan, rantai pertumbuhan ekonomi dimulai dari produksi pengetahuan yang menarik investasi dan membangun infrastruktur penelitian.
“Infrastruktur melahirkan pengetahuan baru. Siklus tersebut selalu dimulai dari riset yang kuat,” tegasnya.
Spesialisasi Riset dan Dukungan Pemerintah
Dalam paparan strateginya, Stella mendorong universitas fokus pada spesialisasi riset unggulan, seperti pertanian modern, pengelolaan mineral kritis, dan sains kelautan.
Menurutnya, ketiga sektor ini memiliki potensi besar menjadikan Indonesia pemain penting di perekonomian global.
Pemerintah, lanjutnya, telah mengalokasikan Rp2,26 triliun untuk pendanaan riset nasional dan segera menyalurkan tambahan dana Rp1,8 triliun.
Investasi ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas penelitian perguruan tinggi dan mempercepat hilirisasi inovasi.
Dukungan Ilmuwan Dunia
Pandangan Stella turut diperkuat peraih Nobel Fisika, Brian P. Schmidt, yang menegaskan bahwa sains merupakan pendorong utama peradaban teknologi modern.
Ia menyoroti sejarah astronomi yang membentuk metode ilmiah, yang kemudian menjadi fondasi revolusi teknologi dunia.
“Sejarah membuktikan pengetahuan adalah modal terbesar. Tanpa data akurat, keberanian menguji ide, kemajuan tidak terjadi,” ucap Schmidt.
Mengakhiri paparannya, Stella mengajak perguruan tinggi untuk melibatkan mahasiswa secara aktif dalam riset dan memperluas kemitraan lintas sektor.
“Negara ini membutuhkan Anda sekarang, pengetahuan adalah kunci membuat Indonesia menang di masa depan,” pungkasnya.***