JAKARTA – Partai Golkar menyatakan kesiapannya menyambut kembali Setya Novanto untuk aktif kembali dalam politik usai bebas bersyarat dari kasus korupsi e-KTP.
Wakil Ketua Umum Golkar, Ahmad Doli Kurnia, menegaskan bahwa Setya Novanto tetap tercatat sebagai kader partai dan tidak pernah dikeluarkan meski terjerat kasus hukum.
“Kami mau tegaskan bahwa Setya Novanto itu setahu saya tidak pernah mengundurkan diri atau keluar dari Partai Golkar. Golkar juga tidak pernah mengeluarkan surat memberhentikan Pak Setya Novanto,” ujar Doli saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa.
“Jadi per hari ini Setya Novanto itu adalah masih kader Partai Golkar, jadi menjadi bagian dari keluarga besar Partai Golkar.”
Setya Novanto, yang pernah menjabat sebagai Ketua DPR RI dan Ketua Umum Golkar, dinyatakan bebas bersyarat dari Lapas Sukamiskin, Bandung, pada 16 Agustus 2025, setelah menjalani dua per tiga masa hukuman atas kasus korupsi proyek e-KTP yang merugikan negara Rp2,3 triliun. Pembebasan ini didukung oleh putusan Mahkamah Agung yang memangkas hukumannya dari 15 tahun menjadi 12,5 tahun penjara, ditambah kewajiban membayar denda Rp500 juta dan uang pengganti Rp49,052 miliar.
Doli menyatakan rasa syukur atas selesainya proses hukum yang dijalani Setnov. “Dia kemarin ditetapkan bebas bersyarat ya kami bersyukur, artinya ada kader kami yang memang sudah selesai menjalani proses hukum,” katanya.
Golkar, lanjutnya, terbuka bagi siapa saja yang ingin berkontribusi, terutama kader senior seperti Novanto.
“Kalau mau aktif di Golkar, ya kami kan enggak pernah menolak siapa-siapa untuk bisa aktif, apalagi kader,” tambah Doli.
Namun, peluang Setnov untuk kembali menduduki posisi strategis di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar dinilai kecil.
Doli menjelaskan bahwa partai telah mengalami regenerasi kepemimpinan, dengan banyak kader muda yang kini mengisi posisi penting. “Kalau DPP itu kan sekarang, Pak Bahlil ini kan ketua umum setelah Pak Novanto. Setelah Pak Novanto, Pak Airlangga sudah dua (periode),” ungkapnya.
Jika aktif kembali, Setnov kemungkinan akan ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan pengalaman dan senioritasnya.
Meski demikian, Sekretaris Jenderal Golkar Muhammad Sarmuji menyarankan agar Novanto diberi waktu untuk beradaptasi pasca-bebas dari penjara.
“Beliau baru bebas, pasti butuh adaptasi. Masuk pengurus menyita pikiran, biarkan beliau menikmati hidup tanpa beban terlebih dahulu,” ujar Sarmuji.
Kembalinya Setya Novanto ke panggung politik menuai pro dan kontra. Sebagian kalangan mengkritik langkah Golkar karena statusnya sebagai mantan terpidana korupsi, sementara pihak lain menilai Novanto berhak mendapat kesempatan kedua setelah memenuhi syarat hukum. Dengan status bebas bersyarat hingga 2029, langkah politik Novanto ke depan masih menjadi tanda tanya, bergantung pada keputusannya sendiri dan dinamika internal Golkar.