JAKARTA – Ledakan bom rakitan di SMAN 72 Jakarta Utara pada Jumat, 7 November, menewaskan puluhan orang dan melukai 96 lainnya. Menurut penyelidikan kepolisian, pelaku adalah seorang siswa aktif sekolah yang bertindak sendiri, tanpa afiliasi dengan kelompok teror manapun.
“Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, anak yang berkonflik dengan hukum atau ABH yang terlibat dalam ledakan tersebut diketahui merupakan seorang siswa SMA aktif yang bertindak secara mandiri dan tidak terhubung dengan jaringan teror tertentu.” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri, di Mapolda Metro Jaya. Selasa (11/11/2025).
Kronologi Aksi Pelaku
Ledakan terjadi saat pelaksanaan salat Jumat, memicu kepanikan di area sekolah. Pelaku membawa bom rakitan yang dijinakkan sebagian oleh Sat Brimob di lokasi. Tim Puslabfor Polri memeriksa bahan peledak untuk menentukan jenis dan daya ledaknya.
Penggeledahan di rumah pelaku mengungkap sosok yang tertutup, jarang bergaul, dan memiliki minat pada konten kekerasan ekstrem. Dari keterangan 18 saksi—termasuk guru, siswa, keluarga, dan korban—ABH digambarkan sebagai individu yang sulit diprediksi, bertindak secara independen, dan tidak mengikuti ideologi kelompok teror.
Analisis Digital dan Investigasi Lanjutan
Densus 88 menganalisis rekaman CCTV, ponsel, dan aktivitas daring pelaku. Data awal menunjukkan bahwa pelaku menelusuri konten kekerasan secara mandiri, bukan sebagai bagian dari jaringan radikal.
“Kami dari jajaran Polda Metro Jaya bersama Densus 88, Puslabfor Polri, dan Kapus Dokkes Polri telah mengambil langkah cepat untuk menangani situasi di lapangan, termasuk melakukan penggeledahan dan pemeriksaan digital untuk memahami motif pelaku.” tambahnya.
Investigasi forensik lanjutan meliputi pemeriksaan bahan peledak dan perangkat digital untuk menyingkap penyebab psikologis dan teknis tindakan pelaku.
Data Korban dan Penanganan Medis
Ledakan menyebabkan 96 korban: 67 luka ringan, 26 luka sedang, dan 3 luka berat. Korban dirawat di RSI Cempaka Putih, RS Yarsi, RS Pertamina, Balai Kesehatan Lantamal, Puskesmas Kelapa Gading, dan RS Polri.
Hingga saat ini, 68 korban telah dipulangkan, sementara 28 lainnya masih dirawat. Trauma healing dilakukan secara intensif, termasuk pendampingan psikologis oleh Himpunan Psikologi Indonesia melalui posko di RSI Cempaka Putih.
Irjen Asep menegaskan, “Kami juga menyediakan posko pelayanan korban pasca-ledakan untuk memberikan pendampingan dan bantuan bagi para korban.” ucapnya.
ABH dikenal sebagai pribadi tertutup dan jarang bergaul. Ketertarikan pelaku pada konten kekerasan ekstrem menegaskan bahwa motifnya bersifat pribadi dan independen, bukan bagian dari aktivitas teror terorganisir.
Tim penyidik terus mendalami latar belakang ABH melalui saksi, analisis digital, dan forensik bahan peledak. Penyelidikan ini bertujuan memahami faktor individu yang memicu aksi bom rakitan, sekaligus mencegah potensi kasus serupa di sekolah lain.