Indeks Harga Saham Gabungan (Indeks Harga Saham Gabungan / IHSG) mencatat tonggak sejarah baru pada perdagangan Rabu (14/1/2026). Indeks ditutup menguat 0,94% ke level 9.032,58, menandai penutupan perdana di atas level psikologis 9.000 sejak IHSG diperkenalkan.
Sepanjang sesi perdagangan, IHSG bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi intraday di level 9.049,30. Kinerja solid ini turut mendongkrak kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menjadi Rp16.459 triliun.
Aktivitas transaksi terpantau ramai, dengan 440 saham menguat, nilai transaksi mencapai Rp29,3 triliun, dan frekuensi perdagangan sebanyak 3,43 juta kali.
Saham Komoditas dan Konglomerat Jadi Motor Reli
Penguatan IHSG terutama ditopang oleh lonjakan saham-saham komoditas, khususnya sektor emas, seiring harga emas dunia yang bertahan di kisaran US$4.630 per troy ounce.
Sejumlah emiten tambang emas mencatatkan penguatan signifikan:
-
PT Archi Indonesia Tbk melonjak 11,11%
-
PT Aneka Tambang Tbk naik 5,93%
-
PT J Resources Asia Pasifik Tbk menguat 10,17%
Saham-saham milik konglomerat juga menjadi penopang indeks. PT Barito Renewables Energy Tbk, yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu, menguat 4,62%. Sementara itu, saham Grup Bakrie ikut menguat, dengan PT Bumi Resources Tbk naik 2,96% dan PT Bumi Resources Minerals Tbk menguat 3,35%.
Minat investor asing tercermin dari net buy asing sebesar Rp712,3 miliar pada sesi pertama perdagangan, dengan saham ARCI dan ANTM menjadi incaran utama.
Risiko Global dan Rupiah Masih Jadi Perhatian
Meski mencetak rekor, pasar saham domestik masih dibayangi sejumlah tantangan global. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bertahan di kisaran Rp16.860–Rp16.875, terdepresiasi sekitar 1,04% sejak awal tahun.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar.
“Tekanan berasal dari eskalasi ketegangan geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dengan Iran dan Venezuela, serta konflik Rusia–Ukraina, masih menjadi faktor risiko global. Di sisi lain, bursa regional bergerak bervariasi, dengan indeks Nikkei 225 Jepang mencetak rekor baru menembus level 54.000.
Proyeksi dan Waspada Aksi Ambil Untung
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memproyeksikan IHSG berpeluang mencapai 10.500 pada akhir 2026, didukung ekspektasi pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,3% serta potensi sinergi kebijakan moneter dan fiskal.
Meski demikian, analis mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap potensi aksi ambil untung dalam jangka pendek, terutama menjelang libur panjang pada akhir pekan ini.


