JAKARTA – Patung Najma di Al Ula, Arab Saudi, belakangan menjadi sorotan setelah foto dan keberadaannya ramai diperbincangkan di media sosial. Instalasi seni berupa sosok perempuan berwarna biru tersebut bahkan disebut sebagai berhala oleh sejumlah pengguna media sosial. Penyebutan itu memunculkan pertanyaan karena Najma berada di kawasan Al Ula yang termasuk wilayah Provinsi Madinah.
Namun, Najma sebenarnya merupakan karya seni instalasi yang dibuat seniman Amerika Serikat, Lita Albuquerque. Karya tersebut menjadi bagian dari pameran Desert X AlUla pada 2020. Berdasarkan keterangan resmi Desert X, Najma memiliki nama lengkap NAJMA (She Placed One Thousand Suns Over the Transparent Overlays of Space).
Bukan Patung untuk Disembah
Najma dibuat dengan sosok perempuan berwarna biru yang duduk di atas sebuah batu besar. Karya tersebut ditempatkan di kawasan lembah Al Ula dan dirancang untuk menyatu dengan lingkungan gurun di sekitarnya.
Menurut penjelasan senimannya, Najma berkaitan dengan gagasan tentang astronomi, bintang, dan hubungan manusia dengan alam semesta. Albuquerque menggunakan sosok fiktif bernama Elyseria, seorang astronaut perempuan dari masa depan, sebagai bagian dari narasi karya tersebut.
Desert X menjelaskan bahwa instalasi Najma merupakan kelanjutan dari proyek Albuquerque yang mengeksplorasi gurun sebagai ruang untuk memahami sejarah serta tradisi astronomi. Pola lingkaran berwarna biru di sekitar patung juga dibuat berdasarkan posisi bintang pada waktu tertentu ketika pameran berlangsung.
Dengan demikian, penyebutan Najma sebagai berhala tidak sesuai dengan konteks karya yang dijelaskan oleh seniman maupun penyelenggara pameran. Najma merupakan instalasi seni dengan konsep yang berkaitan dengan kosmologi dan astronomi.
WNI Ceritakan Kondisi di Lokasi
Perbincangan mengenai Najma juga mendapat perhatian setelah kesaksian seorang WNI yang pernah melihat langsung instalasi tersebut di Al Ula.
Indira Rezkisari, warga Tangerang Selatan, mengaku melihat Najma ketika berkunjung ke Al Ula pada tahun sebelumnya. Saat itu, ia menginap di Habitas AlUla, sebuah hotel yang berada tidak jauh dari lokasi instalasi.
Menurut pengamatannya, patung tersebut berada di area yang dekat dengan kolam renang dan tempat makan bagi tamu hotel. Ia juga tidak melihat adanya wisatawan atau rombongan jamaah umrah yang datang secara khusus untuk melihat Najma.
Kondisi tersebut membuat suasana di sekitar instalasi jauh berbeda dari kesan sebuah tempat yang menjadi tujuan ibadah. Para tamu hotel justru melakukan berbagai aktivitas wisata seperti menikmati fasilitas kolam renang.
Indira juga menyebut posisi Najma yang cukup tinggi membuat patung tersebut tidak mudah dijadikan objek foto dari jarak dekat. Karena berada di atas bebatuan, pengunjung tidak dapat dengan mudah mengambil gambar dari bagian bawah patung.
Najma dan Sejarah Desert X AlUla
Najma pertama kali ditampilkan dalam Desert X AlUla pada 2020. Pameran tersebut merupakan perhelatan seni luar ruang yang menghadirkan karya-karya berskala besar di lanskap Al Ula.
Menurut arsip resmi Desert X, instalasi Najma berada di atas sebuah batu besar di kawasan lembah tersembunyi. Karya tersebut dibuat dengan pigmen biru ultramarine dan ditempatkan bersama pola yang merepresentasikan susunan bintang.
Keberadaan Najma kemudian menjadi salah satu karya yang dikenal dari penyelenggaraan Desert X AlUla. Bahkan, karya tersebut masih tercatat dalam materi resmi Desert X sebagai salah satu instalasi dari edisi 2020.
Penting Memahami Konteks Sebelum Menyimpulkan
Ramainya perbincangan mengenai patung Najma menunjukkan bagaimana sebuah foto dapat menimbulkan persepsi berbeda ketika beredar tanpa konteks. Bentuk figur perempuan dan lokasinya di Arab Saudi membuat sebagian orang menghubungkannya dengan persoalan keagamaan.
Padahal, informasi mengenai sejarah karya, seniman, pameran, serta tujuan pembuatannya memberikan gambaran yang berbeda. Najma merupakan karya seni kontemporer yang menggunakan simbol astronomi dan narasi fiksi sebagai bagian dari konsep artistiknya.
Karena itu, penyebutan Najma sebagai “berhala” sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari klaim atau perbincangan yang muncul di media sosial, bukan sebagai fakta yang sudah terbukti. Kesaksian WNI yang pernah berada di lokasi juga menunjukkan bahwa instalasi tersebut berada dalam konteks kawasan hotel dan seni, bukan sebagai tempat yang digunakan untuk kegiatan ibadah.
Perdebatan mengenai Najma pada akhirnya menjadi pengingat pentingnya memeriksa konteks sebuah objek sebelum menarik kesimpulan. Terlebih ketika informasi tersebut berkaitan dengan agama, sejarah, dan budaya yang memiliki sensitivitas tinggi. (ACH)


