Penipuan dan kecurangan berbasis mata uang kripto tercatat telah menggerus sedikitnya US$14 miliar dana korban sepanjang 2025, dan angka tersebut diperkirakan akan melampaui US$17 miliar (sekitar Rp 287 triliun) seiring berjalannya proses identifikasi alamat dompet ilegal oleh aparat penegak hukum. Temuan ini diungkap dalam laporan terbaru Chainalysis yang dirilis Selasa.
Nilai kerugian tersebut mencerminkan lonjakan tajam dibanding 2024, yang semula dilaporkan sebesar US$9,9 miliar dan kemudian direvisi naik menjadi US$12 miliar. Artinya, dalam kurun satu tahun, skala penipuan kripto meningkat drastis baik dari sisi volume maupun kompleksitas.
Chainalysis mencatat rata-rata nilai pembayaran penipuan melonjak 253 persen, dari US$782 pada 2024 menjadi US$2.764 pada 2025. Jenis penipuan yang paling mengkhawatirkan adalah penipuan penyamaran (impersonation scams), yang melonjak lebih dari 1.400 persen secara tahunan, di mana pelaku menyamar sebagai institusi resmi, perusahaan besar, hingga lembaga pemerintah untuk memanipulasi korban.
Penipuan Berbasis AI Makin Efisien dan Menguntungkan
Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) terbukti menjadi “pengganda daya rusak” bagi jaringan penipu. Operasi penipuan yang terverifikasi menggunakan vendor AI mampu meraup rata-rata US$3,2 juta per operasi, jauh melampaui skema tanpa AI yang hanya menghasilkan sekitar US$719.000—atau 4,5 kali lebih menguntungkan.
Efisiensi juga meningkat tajam. Operasi berbasis AI mencatat pendapatan harian median US$4.838, dibandingkan hanya US$518 pada skema penipuan konvensional.
“Penipuan kripto terus berkembang dalam skala dan kecanggihan. Kelompok kejahatan terorganisir kini semakin memanfaatkan penyamaran identitas, infrastruktur digital, dan alat berbasis AI untuk menargetkan korban dengan cepat dan masif,” ujar Will Lyne, Kepala Kejahatan Ekonomi dan Siber di Kepolisian Metropolitan Inggris.
Salah satu contoh paling mencolok adalah kampanye phishing penagihan tol E-ZPass yang dijalankan kelompok penjahat siber berbahasa Mandarin, dikenal sebagai Darcula atau Smishing Triad. Operasi ini mampu mengirim hingga 330.000 SMS palsu dalam satu hari, menipu lebih dari 1 juta korban di 121 negara, dan mengumpulkan US$1 miliar dalam tiga tahun, menurut gugatan Google pada November 2025.
Penyitaan Kripto Terbesar dalam Sejarah
Lonjakan kejahatan kripto mendorong aksi penegakan hukum berskala historis. Pada November 2025, Kepolisian Metropolitan Inggris mengamankan dakwaan dalam kasus penyitaan kripto terbesar di dunia, dengan menyita lebih dari 61.000 Bitcoin dari Zhimin Qian, pelaku penipuan investasi yang merugikan lebih dari 128.000 korban di China antara 2014–2017. Qian dijatuhi hukuman 11 tahun penjara.
Sementara itu, pada Oktober 2025, Departemen Kehakiman Amerika Serikat mendakwa Chen Zhi, Ketua Prince Group Kamboja, atas tuduhan mengawasi kompleks penipuan kripto berbasis kerja paksa. Otoritas AS menyita lebih dari US$15 miliar aset hasil kejahatan, menjadikannya penyitaan terbesar dalam sejarah Departemen Kehakiman.
Chen ditangkap di Kamboja pada Januari 2026, namun diekstradisi ke China—bukan ke Amerika Serikat—untuk menghadapi proses hukum lebih lanjut.