TEHERAN, IRAN – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin memanas. Mohsen Rezaei, jenderal senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Kebijaksanaan Iran, melontarkan ancaman keras secara terbuka terhadap Presiden AS Donald Trump.
Dalam pernyataan publik yang disiarkan pada Kamis (16/1/2026), Rezaei merespons pernyataan Trump yang menyebutkan bahwa tangannya berada di pelatuk senjata.
“Trump mengatakan bahwa tangannya sedang berada di pelatuk. Kami akan memotong tangan dan jarinya,” ujar Rezaei, sebagaimana dilansir Iran International.
Pernyataan provokatif ini muncul di tengah laporan pergerakan aset militer Amerika Serikat, termasuk kapal induk, ke kawasan Timur Tengah sebagai respons atas meningkatnya ketegangan dengan Teheran, termasuk penindasan keras terhadap demonstrasi di Iran.
Rezaei menegaskan bahwa Iran tidak akan lagi bersikap lunak jika terjadi serangan. Ia juga menolak kemungkinan gencatan senjata apabila pihaknya terpaksa melakukan serangan balasan.
“Jika kami bergerak maju, tidak akan ada lagi pembicaraan mengenai gencatan senjata,” tegasnya.
Jenderal yang pernah memimpin IRGC selama 17 tahun itu turut memperingatkan Washington agar tidak meremehkan sikap sabar yang selama ini ditunjukkan Iran.
“Anda tidak memperhatikan penahanan diri dan kesabaran strategis yang telah kami tunjukkan. Berhentilah sekarang juga. Mundurlah, jika tidak, tak satu pun pangkalan Anda di kawasan ini akan aman,” katanya.
Ancaman tersebut semakin memperkeruh hubungan Amerika Serikat dan Iran yang telah lama tegang, terutama setelah Trump berulang kali menyatakan kesiapan untuk melakukan intervensi militer jika Iran terus menindak keras para demonstran. Rezaei, yang masuk dalam daftar sanksi AS sejak 2020, dikenal sebagai salah satu figur paling berpengaruh di kalangan militer dan politik Iran.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih terkait pernyataan Rezaei. Situasi ini menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah yang sudah lama dilanda konflik.