JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri bidang ekonomi ke Istana Kepresidenan, Jakarta, pada siang hari Kamis. Pertemuan yang berlangsung dalam suasana makan siang ini dihadiri para pejabat kunci yang mengenakan batik seragam dan membawa dokumen, menandakan persiapan matang menghadapi arahan presiden.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Hilirisasi dan Investasi Rosan Roeslani, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjadi yang pertama tiba. Kedatangan mereka tercatat mulai pukul 12.23 WIB. Para menteri terlihat kompak mengenakan batik dan masing-masing menenteng map saat memasuki kompleks istana.
Meski bersifat makan siang, pertemuan ini diyakini membahas strategi ekonomi nasional, termasuk pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ekspor yang baru saja diinisiasi pemerintahan Prabowo.
Rosan Roeslani, yang ditanya soal agenda pertemuan, menjawab singkat bahwa dirinya diundang untuk makan siang. “Undangan makan siang,” kata Rosan saat dikonfirmasi awak media di Istana.
Terkait BUMN Ekspor, Rosan menyatakan akan menyampaikan laporan mekanisme terlebih dahulu sebelum membahas lebih lanjut. “Ini mau lapor mekanismenya. Nanti ya saya laporan dulu,” ujarnya.
Sementara itu, Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan sikapnya untuk mendengarkan arahan langsung dari Presiden. “Kita lihat pak presiden mau berikan arahan apa,” katanya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga datang dengan persiapan. Ia mengaku membawa laporan sebagai antisipasi jika diminta penjelasan oleh Presiden. “Ini selalu jaga-jaga, kalau ditanya jangan sampe nggak bisa,” tutur Purbaya.
Pertemuan ini menjadi sorotan karena berlangsung di awal masa pemerintahan Prabowo, di mana koordinasi antarkementerian ekonomi menjadi krusial untuk mewujudkan target pertumbuhan, hilirisasi industri, peningkatan investasi, dan penguatan ekspor nasional.
Strategi Hilirisasi dan Ekspor Jadi Fokus Utama
Pembentukan BUMN Ekspor disebut-sebut sebagai salah satu langkah strategis Prabowo untuk memperkuat daya saing Indonesia di pasar global. Melalui kementerian yang dipimpin Rosan Roeslani, pemerintah diharapkan dapat mengintegrasikan hilirisasi sumber daya alam dengan program ekspor yang lebih terstruktur.
Kehadiran Perry Warjiyo dari Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa aspek moneter dan stabilitas ekonomi turut menjadi perhatian. Rapat ini kemungkinan membahas sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, industri, dan investasi untuk menghadapi tantangan ekonomi global seperti fluktuasi mata uang dan perlambatan perdagangan dunia.
Penggunaan batik oleh para menteri dalam acara resmi ini juga mencerminkan semangat nasionalisme dan kesatuan dalam tim ekonomi Prabowo. Pakaian tradisional tersebut sering digunakan sebagai simbol identitas Indonesia di forum-formal kenegaraan.
Respons dan Persiapan Para Menteri
Sikap para menteri yang enggan memberikan rincian agenda menunjukkan disiplin protokol istana. Mereka lebih memilih mendengar arahan langsung dari Presiden sebelum menyampaikan informasi kepada publik. Hal ini sejalan dengan gaya kepemimpinan Prabowo yang dikenal menekankan koordinasi internal yang solid sebelum komunikasi eksternal.
Dengan membawa dokumen lengkap, para menteri menunjukkan kesiapan menghadapi diskusi mendalam. Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka mengakui kebiasaan “jaga-jaga” ini sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai bendahara negara.
Pertemuan ini diperkirakan tidak hanya sekadar makan siang informal, melainkan forum strategis untuk menyelaraskan program prioritas pemerintahan, mulai dari hilirisasi hingga penguatan cadangan devisa melalui ekspor.