JAKARTA – Saat Ramadan tiba, tradisi berburu takjil bukan hanya soal mencari makanan lezat untuk berbuka, tetapi juga soal praktisnya kemasan yang digunakan oleh para penjual. Namun dibalik kepraktisan itu, ada sejumlah risiko kesehatan dan lingkungan yang jarang diperhatikan oleh pembeli dan penjual. Mulai dari bungkus koran hingga gelas plastik sekali pakai, masing-masing memiliki tantangan tersendiri yang perlu kita waspadai. Berikut penjelasan lengkapnya.
- 1. Koran Bekas (Bukan Tempat Makan yang Aman)
- 2. Kantong Kresek (Praktis tapi Penuh Risiko Kimia)
- 3. Plastik Bening (Kemasan Transparan, Risiko Tersembunyi)
- 4. Styrofoam (Tahan Lama di Sampah, Tumbuh Masalah di Tubuh)
- 5. Gelas Cup Plastik (Estetis tapi Potensial Lepas Partikel Mikro)
- Cara Bijak Mengurangi Risiko
1. Koran Bekas (Bukan Tempat Makan yang Aman)
Bungkusan koran atau kertas bekas sering dipakai untuk membungkus gorengan atau jajanan pasar karena murah dan mudah ditemukan. Padahal, tinta dan bahan kimia pada kertas cetak tidak dirancang untuk bersentuhan langsung dengan makanan.
Menurut ahli kesehatan di Uganda, tinta pada kertas koran mengandung pigmen dan bahan aktif yang bisa berpindah ke makanan, terutama jika makanan masih panas atau berlemak. Kontaminasi semacam ini dapat memicu gangguan pencernaan bahkan berpotensi memengaruhi sistem hormonal jika terjadi berulang kali dalam jangka panjang.
Selain itu, koran bekas sering terpapar debu dan mikroorganisme dari udara yang berarti bisa menjadi sumber bakteri atau jamur yang berbahaya untuk dikonsumsi.
2. Kantong Kresek (Praktis tapi Penuh Risiko Kimia)
Plastik kresek hitam yang sering digunakan untuk membungkus makanan bisa tampak tak berbahaya pada pandangan pertama. Namun, sebagian besar plastik jenis ini tidak dirancang khusus untuk kontak dengan makanan, apalagi makanan panas.
Beberapa lembaga konsumen bahkan menganjurkan untuk tidak memakai kantong plastik jenis ini untuk daging atau makanan siap santap karena zat kimia yang ada dalam plastik dapat berpindah ke makanan.
Bahan-bahan tambahan seperti plasticizers dan BPA yang biasanya tidak diatur secara ketat dalam plastik kresek dapat mengakibatkan gangguan endokrin, masalah reproduksi, bahkan efek kardiovaskular bila terpapar dalam jumlah tinggi dan berkepanjangan.
3. Plastik Bening (Kemasan Transparan, Risiko Tersembunyi)
Plastik bening yang sering dipakai untuk bungkus sup, sayur, atau buah ternyata lebih dari sekadar sampah sekali pakai. Berdasarkan penelitian, bahan plastik seperti PET, PP, atau PE bisa mengandung sampai puluhan ribu zat kimia berbeda yang lepas ke dalam makanan, terutama saat makanan masih panas.
Selain itu, studi dari Journal of Exposure Science & Environmental Epidemiology menunjukkan bahwa lebih dari 3.600 senyawa dari kemasan makanan telah terdeteksi dalam tubuh manusia, termasuk PFAS kelompok bahan kimia yang dikenal mampu bertahan lama dan memengaruhi kekebalan tubuh.
Paparan zat-zat ini telah dikaitkan dengan gangguan hormon, respon imun terganggu, bahkan risiko beberapa penyakit kronis.
4. Styrofoam (Tahan Lama di Sampah, Tumbuh Masalah di Tubuh)
Styrofoam atau polistirena foam sering dipakai oleh pedagang karena ringan dan murah. Namun bahan ini memiliki dua masalah besar: Itu bukan bahan makanan “food grade”, dan sifatnya tidak biodegradable (tidak terurai secara alami).
Styrofoam mengandung styrene, yang diklasifikasikan sebagai kemungkinan karsinogen oleh beberapa badan kesehatan internasional. Ketika styrofoam bersentuhan dengan makanan panas atau berlemak, senyawa ini dapat berpindah ke makanan, berpotensi memicu gangguan hormon dan risiko kesehatan jangka panjang.
Selain risiko kesehatan, Styrofoam membutuhkan ratusan tahun untuk terurai, dan partikel kecilnya (mikroplastik) dapat mencemari tanah dan air, serta membahayakan fauna liar jika terbuang sembarangan.
5. Gelas Cup Plastik (Estetis tapi Potensial Lepas Partikel Mikro)
Gelas plastik sekali pakai yang dipakai untuk es buah atau jus takjil memang terlihat menarik dan bersih. Namun penelitian menunjukkan bahwa ketika gelas plastik bersentuhan dengan minuman panas atau asam, triliunan mikroplastik dan nanoplastik dapat lepas ke dalam minuman.
Kehadiran mikroplastik pada makanan dan minuman dikaitkan dengan peradangan, stres oksidatif dan gangguan sistem imun pada tubuh. Dampak jangka panjang dari konsumsi mikroplastik ini masih dalam penelitian, tetapi para ilmuwan mengingatkan bahwa paparan terus menerus bisa berkontribusi pada masalah kesehatan kronis.
Cara Bijak Mengurangi Risiko
Tak semua kemasan bisa langsung dihapus dari kehidupan kita dalam semalam, terutama bagi pedagang kecil yang bekerja dengan margin tipis. Namun beberapa langkah sederhana bisa membantu:
-
Pilih kemasan food-grade yang aman untuk makanan panas.
-
Kurangi penggunaan plastik sekali pakai, gunakan wadah yang bisa dipakai ulang.
-
Hindari bungkus koran langsung dengan makanan panas atau berlemak.
-
Bawa wadah sendiri jika memungkinkan.
Kesadaran konsumen dan pelaku usaha sama pentingnya untuk meminimalkan dampak kesehatan dan lingkungan dari bungkus takjil yang selama ini kita anggap sepele. Semoga artikel ini membantu kamu lebih cerdas dalam memilih takjil yang tidak hanya enak, tapi juga aman untuk tubuh dan bumi.