RIYADH – Arab Saudi memanggil Duta Besar Iran untuk Riyadh, Alireza Enayati, pada Minggu (2/3) setelah militer kerajaan tersebut berhasil mencegat sejumlah rudal yang diluncurkan Iran dan diduga menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta Pangkalan Udara Pangeran Sultan, yang menjadi lokasi pasukan Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam keras serangan tersebut dan menyebut tindakan Iran sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan keamanan kerajaan”. Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Waleed Al-Khuraiji, menegaskan bahwa negaranya “akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk mempertahankan keamanan dan melindungi wilayahnya.”
Serangan rudal itu merupakan bagian dari respons militer Iran yang lebih luas terhadap operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel, yang belakangan ini mengguncang kawasan Teluk. Iran menyebut serangannya sebagai “Operasi True Promise 4”, dengan menargetkan pangkalan-pangkalan AS dan negara-negara sekutu di kawasan, termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Yordania.
Meski seluruh rudal yang mengarah ke wilayah Saudi berhasil ditembak jatuh sebelum mencapai sasaran, ledakan hasil intersepsi sempat terdengar di berbagai penjuru Riyadh. Tidak ada laporan korban jiwa, namun bandara sempat menghentikan sejumlah penerbangan untuk alasan keamanan.
Sejumlah negara Teluk, termasuk Kuwait dan Qatar, juga mengambil langkah diplomatik serupa dengan memanggil perwakilan Iran. Sementara itu, Putra Mahkota Mohammed bin Salman dilaporkan menggelar komunikasi intensif dengan para pemimpin negara Teluk lainnya, menegaskan solidaritas dan komitmen untuk menjaga stabilitas regional.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan bahwa Riyadh tidak pernah mengizinkan wilayah atau ruang udaranya digunakan dalam operasi militer apa pun terhadap Iran, sehingga serangan ini dipandang sebagai tindakan yang “tanpa alasan dan tidak dapat dibenarkan”.