Lembaga Bulan Sabit Merah Iran melaporkan sedikitnya 787 orang tewas di Iran sejak Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran ke negara tersebut pada Sabtu lalu.
Sementara itu, organisasi Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran (HRANA) yang berbasis di AS mencatat angka kematian warga sipil mencapai 742 jiwa, termasuk 176 anak-anak.
Fasilitas Kesehatan dalam Bidikan
Anggota Komisi Kesehatan Parlemen Iran, Fatemeh Mohammadbeigi, menyatakan pada hari Senin bahwa sembilan rumah sakit di Iran telah menjadi sasaran. Ia menuduh Israel dan AS sengaja menargetkan fasilitas medis tersebut.
Menanggapi tudingan terkait serangan terhadap Rumah Sakit Gandhi di Teheran, pihak militer Israel (IDF) berkilah bahwa serangan tersebut “tidak ditujukan langsung kepada rumah sakit.” Di sisi lain, BBC telah menghubungi Komando Pusat AS (Centcom) untuk meminta tanggapan resmi namun belum ada jawaban.
Kementerian Luar Negeri Iran hari ini menegaskan kembali tuduhan bahwa Israel dan AS menyerang rumah sakit yang sama. “Ini adalah serangan sistematis, tidak hanya menyasar militer tetapi juga warga sipil,” ujar jurnalis Mohammad Khatibi kepada BBC World Service dari dalam wilayah Iran.
Teheran Menjadi Puing
Khatibi melaporkan bahwa “setiap sudut” ibu kota, Teheran, telah dihantam serangan udara sejak konflik meletus Sabtu lalu. Target serangan meliputi menara komunikasi, stasiun penyiaran, hingga pasar bersejarah Grand Bazaar Teheran yang menurut Khatibi kini telah “menjadi puing-puing.”
Ketika ditanya mengenai reaksi publik atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei—yang tewas dalam serangan tersebut—Khatibi menyebut ada “kelompok kecil” warga yang merayakan, namun tidak ada kerusuhan skala besar yang terjadi.
Skenario Perubahan Rezim
Namun, Khatibi memperingatkan bahwa akibat hancurnya instalasi militer dan polisi—yang biasanya menangani kerusuhan—ia meyakini “kelompok separatis dan oposisi di luar Iran” akan segera menyerukan demonstrasi besar-besaran. Hal ini dikhawatirkan akan memicu gejolak serupa dengan peristiwa Januari lalu yang menelan ribuan korban jiwa.
“Ini [perubahan rezim] memang rencana mereka sejak awal,” klaim Khatibi. “Isu nuklir, menurut saya, hanyalah sebuah alasan.”