JAKARTA – Perubahan iklim semakin dirasakan dampaknya di berbagai wilayah Indonesia. Cuaca yang tidak menentu, intensitas hujan yang semakin tinggi, serta musim kemarau yang lebih panjang telah memicu meningkatnya kejadian bencana alam. Banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan kini menjadi peristiwa yang semakin sering terjadi dari tahun ke tahun.
Menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebagian besar bencana yang terjadi di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi, yaitu bencana yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim seperti banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Lembaga tersebut juga mencatat bahwa tren kejadian bencana di Indonesia meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir, seiring dengan dampak perubahan iklim yang semakin terasa di berbagai daerah.
BNPB menyebutkan bahwa sejak tahun 2010 jumlah bencana di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup tajam, dan sekitar 90 persen di antaranya merupakan bencana hidrometeorologi. Kondisi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim memiliki pengaruh besar terhadap meningkatnya risiko bencana di tanah air.
Indonesia sendiri termasuk negara yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Letak geografis yang berada di wilayah tropis serta kondisi kepulauan dengan banyak daerah pesisir membuat berbagai wilayah mudah terdampak oleh perubahan cuaca ekstrem. Ketika curah hujan meningkat drastis misalnya, wilayah dataran rendah dan kawasan bantaran sungai lebih rentan mengalami banjir dan longsor.
Namun dampak krisis iklim tidak dirasakan secara merata oleh seluruh kelompok masyarakat. Dalam banyak kasus, kelompok rentan justru menjadi pihak yang paling merasakan dampak buruk dari bencana yang terjadi.
Kelompok Rentan Hadapi Risiko Lebih Besar
Dalam situasi bencana, perempuan, anak-anak, dan lansia sering menghadapi risiko yang lebih besar dibandingkan kelompok masyarakat lainnya. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari keterbatasan akses terhadap informasi, mobilitas yang terbatas, hingga kondisi sosial dan ekonomi.
BNPB menjelaskan bahwa kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, serta masyarakat berpenghasilan rendah sering kali menjadi kelompok yang paling terdampak ketika bencana terjadi. Mereka kerap menghadapi kesulitan dalam proses evakuasi, akses terhadap bantuan, maupun proses pemulihan setelah bencana.
Perempuan misalnya sering memikul tanggung jawab tambahan dalam situasi darurat. Selain memastikan keselamatan diri sendiri, mereka juga harus mengurus anggota keluarga lainnya, terutama anak-anak dan lansia. Dalam kondisi pengungsian, perempuan juga berisiko menghadapi berbagai persoalan lain seperti keterbatasan fasilitas sanitasi yang aman serta meningkatnya risiko kekerasan berbasis gender.
BNPB juga mencatat bahwa perempuan dan anak perempuan memiliki kerentanan khusus dalam situasi bencana. Kurangnya fasilitas yang memadai di lokasi pengungsian dapat memicu berbagai masalah kesehatan dan keamanan bagi mereka.
Sementara itu, anak-anak merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap dampak jangka panjang dari bencana. Selain berisiko mengalami gangguan kesehatan, mereka juga dapat kehilangan akses terhadap pendidikan serta mengalami trauma psikologis akibat pengalaman bencana.
Lansia juga menghadapi tantangan tersendiri ketika terjadi bencana alam. Keterbatasan fisik dan kondisi kesehatan membuat sebagian dari mereka kesulitan untuk bergerak cepat saat proses evakuasi berlangsung. Tanpa dukungan keluarga atau komunitas, kelompok ini berpotensi mengalami dampak yang lebih berat.
Krisis Iklim Memperparah Ketimpangan
Dampak perubahan iklim juga sering kali memperburuk ketimpangan sosial yang sudah ada di masyarakat. Kelompok dengan kondisi ekonomi terbatas biasanya tinggal di wilayah yang lebih rentan terhadap bencana, seperti kawasan bantaran sungai, lereng perbukitan, atau daerah pesisir.
Ketika bencana terjadi, kelompok ini memiliki kapasitas yang lebih terbatas untuk melakukan pemulihan. Kerusakan rumah, hilangnya sumber penghasilan, serta keterbatasan akses terhadap bantuan membuat mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk bangkit kembali.
BNPB juga menekankan bahwa upaya penanggulangan bencana harus memperhatikan pendekatan yang inklusif agar kebutuhan kelompok rentan dapat terpenuhi. Tanpa pendekatan tersebut, risiko ketimpangan dalam penanganan bencana akan semakin besar.
Membangun Ketahanan Masyarakat
Menghadapi krisis iklim yang semakin nyata, upaya memperkuat ketahanan masyarakat menjadi langkah penting. Salah satu pendekatan yang mulai banyak diterapkan adalah penguatan kapasitas masyarakat di tingkat lokal agar mampu menghadapi risiko bencana secara lebih mandiri.
Pendekatan berbasis komunitas memungkinkan masyarakat untuk memahami risiko lingkungan di wilayah mereka sekaligus mengembangkan strategi adaptasi yang sesuai dengan kondisi lokal. Misalnya dengan memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan kesiapsiagaan warga, serta memanfaatkan pengetahuan lokal dalam menghadapi perubahan lingkungan.
Selain itu, keterlibatan kelompok rentan dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan juga sangat penting. Dengan melibatkan perempuan, anak muda, dan lansia dalam diskusi mengenai mitigasi bencana, kebijakan yang dihasilkan akan lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Krisis iklim memang menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Namun dengan kolaborasi antara pemerintah, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal, upaya untuk memperkuat ketahanan masyarakat tetap dapat dilakukan. Ketika perlindungan terhadap kelompok paling rentan menjadi prioritas, maka masyarakat akan memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk menghadapi berbagai risiko bencana di masa depan.