JAKARTA – Harga minyak dunia melonjak tajam mendekati 30 persen setelah eskalasi konflik Iran memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer di Timur Tengah yang memicu reaksi cepat pasar energi internasional.
Para pelaku pasar menilai konflik yang semakin meluas berpotensi mengganggu produksi serta distribusi minyak dari kawasan Teluk yang selama ini menjadi salah satu pusat pasokan energi dunia.
Mengutip laporan Oil Prices hingga Senin (9/3/2026) pagi, data perdagangan terbaru menunjukkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga mencapai level 117,50 dolar AS per barel atau naik sekitar 29,27 persen.
Sementara itu minyak mentah Brent juga mencatat lonjakan signifikan hingga 117,70 dolar AS per barel dengan kenaikan sekitar 26,98 persen.
Reli harga minyak tersebut dipicu oleh rangkaian serangan militer yang terus berlangsung di sejumlah wilayah Timur Tengah.
Israel dilaporkan menyerang fasilitas penyimpanan bahan bakar besar di dekat Teheran yang memicu kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi Iran.
Di sisi lain Iran meluncurkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke berbagai titik strategis di kawasan tersebut.
Sebuah serangan drone dilaporkan merusak fasilitas desalinasi air di Bahrain yang menjadi salah satu infrastruktur vital negara tersebut.
Serangan rudal yang menghantam wilayah Israel bagian tengah juga menyebabkan lima orang mengalami luka-luka.
Selain itu satu personel militer Amerika Serikat dilaporkan meninggal dunia setelah serangan balasan Iran yang terjadi di Arab Saudi sehingga menambah jumlah korban menjadi tujuh tentara.
Situasi politik Iran juga mengalami perkembangan penting setelah Dewan Ahli negara tersebut menunjuk Ayatollah Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran pada Senin dini hari.
Ayatollah Mojtaba Khamenei diketahui merupakan putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya Ali Khamenei yang tewas di tengah memanasnya konflik kawasan.
Penunjukan tersebut dinilai memperlihatkan kesinambungan kepemimpinan garis keras di Iran sehingga berpotensi memperumit upaya Amerika Serikat dan Israel untuk mengubah arah pemerintahan negara tersebut.
Di tengah dinamika geopolitik yang memanas pasar energi global kini mulai memperhitungkan kemungkinan gangguan pasokan minyak dalam jangka panjang.
Kekhawatiran terbesar datang dari potensi serangan terhadap fasilitas energi regional serta jalur pelayaran tanker minyak yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Para pedagang energi internasional kini memantau dengan ketat apakah konflik tersebut akan mempengaruhi produksi maupun ekspor minyak dari negara-negara produsen utama di kawasan Teluk.
Ketidakpastian yang meningkat ini membuat harga minyak semakin sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang menjadi salah satu kawasan energi paling strategis di dunia.***