Sebuah tragedi kemanusiaan terjadi di jantung pembuangan sampah terbesar di Indonesia. Pada Minggu (8/3/2026) pukul 14.30 WIB, gunungan sampah setinggi 50 meter di Zona 4 TPST Bantargebang tiba-tiba runtuh, menelan segalanya yang berada di bawahnya.
Hujan ekstrem dengan curah 264 mm diduga menjadi pemicu utama jenuhnya massa sampah hingga kehilangan daya ikatnya. Longsoran dahsyat itu menghantam truk-truk sampah yang sedang mengantre, warung-warung di sekitar lokasi, hingga menutup aliran Sungai Ciketing sepanjang 40 meter.
Hingga Senin siang, upaya evakuasi terus digencarkan oleh 200 personel gabungan TNI, Polri, BPBD, dan Basarnas. Dengan bantuan 17 ekskavator serta anjing pelacak, mereka berpacu dengan waktu untuk mencari empat korban yang masih tertimbun, sementara lima orang dipastikan meninggal dunia dan empat lainnya berhasil diselamatkan.
Jakarta Terancam “Tenggelam” dalam Sampah
Dampak dari musibah ini merembet cepat ke Jakarta. Dengan rata-rata 7.500 ton sampah yang masuk setiap hari, penghentian operasional di Zona 4 praktis membuat manajemen sampah ibu kota lumpuh total.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, mengungkapkan bahwa pihaknya terpaksa mengalihkan operasional ke Zona 3 sambil mencoba mempercepat pengoperasian fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara, guna meredam beban yang meluap.
Saling Lempar Tanggung Jawab?
Tragedi ini memicu ketegangan antar-pemerintah. Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto Tjahyono, dengan tegas meminta pertanggungjawaban penuh dari Pemprov DKI Jakarta.
“Bantargebang adalah milik pemerintah DKI Jakarta, jadi mereka harus bertanggung jawab,” tegasnya.
Di sisi lain, Kementerian Lingkungan Hidup kini tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk memastikan apakah insiden ini murni bencana alam akibat cuaca ekstrem, atau ada unsur kelalaian sistemik dalam pengelolaan sampah yang sudah berlangsung puluhan tahun.
Bantargebang bukan sekadar tempat pembuangan; ia adalah cerminan dari sistem manajemen sampah nasional yang kini berada di titik nadir. Keamanan ratusan pekerja dan nasib kebersihan ibu kota kini dipertaruhkan di balik tumpukan sampah yang bisa runtuh kapan saja.