Federasi Pesepak Bola Profesional Dunia (FIFPRO) kini tengah berpacu dengan waktu untuk menjamin keselamatan para pemain Timnas Putri Iran. Setelah tersingkir dari Piala Asia Wanita 2026, masa depan para pemain ini diliputi kabut ketidakpastian, di tengah gejolak Timur Tengah dan ancaman yang menanti mereka di tanah air.
Dalam Rapat Umum FIFPRO di Sydney, Presiden FIFPRO Asia/Oseania, Beau Busch, menegaskan bahwa FIFA, AFC, dan pemerintah Australia memiliki tanggung jawab moral dan hukum untuk memberikan perlindungan serta pilihan bebas bagi para atlet ini.
Aksi Diam yang Berbuntut Panjang
Kekhawatiran dunia internasional memuncak setelah para pemain Timnas Putri Iran memilih untuk tidak menyanyikan lagu kebangsaan pada laga pembuka melawan Korea Selatan. Aksi diam ini—yang mirip dengan protes tim putra di Piala Dunia 2022—langsung memicu kemarahan rezim di Teheran.
Mohammad Reza Shahbazi, seorang presenter televisi konservatif yang berpengaruh di Iran, secara terbuka melabeli para atlet ini sebagai “pengkhianat masa perang” dan menyerukan agar mereka ditindak dengan sangat keras sekembalinya nanti.
Ruang Gerak yang Terbatas
Selama berada di Australia, tekanan yang dialami para pemain sangat nyata. Mereka dikawal ketat oleh petugas keamanan dan dilarang berbicara kepada media di luar konferensi pers resmi yang dipantau ketat. Bahkan, moderator AFC kerap menginterupsi pertanyaan yang dianggap sensitif dan menyimpang dari urusan teknis pertandingan.
“Kami meminta pemerintah Australia untuk memastikan para pemain memiliki kebebasan menentukan pilihan,” ujar Busch. “Ada yang ingin pulang, tapi ada juga yang sangat khawatir dengan perjalanan itu. Mereka harus memiliki kendali atas apa yang akan terjadi selanjutnya.”
FIFPRO menegaskan bahwa FIFA tidak boleh berpangku tangan. Sesuai kewajiban hukum terkait hak asasi manusia, otoritas sepak bola dunia harus menggunakan pengaruhnya untuk memastikan para pemain tidak menghadapi persekusi saat kembali ke Iran, atau mendapatkan suaka jika mereka memilih untuk menetap di Australia.