WASHINGTON DC, AS – Pemerintah AS untuk pertama kalinya mengakui kesalahan taktis fatal menjelang perang dengan Iran: mengabaikan tawaran teknologi anti-Drone Shahed dari Ukraina. Seorang pejabat senior menyebut langkah itu sebagai “kesalahan besar” yang menyebabkan mereka kini kewalahan di Timur Tengah.
Menurut laporan Axios yang dirilis Selasa (10/3/2026), tawaran tersebut sebenarnya telah disampaikan langsung oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih pada 18 Agustus 2025. Dalam presentasi khusus yang bahkan dilengkapi slide PowerPoint, Zelensky memamerkan teknologi drone pencegat buatan negaranya yang dinilai ampuh menumpas drone Shahed buatan Iran.
“Saat itu Zelensky memperingatkan bahwa drone Iran bisa menjadi ancaman serius di Timur Tengah jika terjadi perang,” tulis laporan Axios mengutip sumber internal pertemuan.
Presiden Trump saat itu disebut meminta timnya untuk mengkaji proposal tersebut. Namun dalam hitungan bulan, tawaran itu menguap begitu saja tanpa tindak lanjut nyata. Sebagian pejabat pemerintahan Trump bahkan menilai Zelensky hanya sedang mencari perhatian internasional.
Keputusan itu kini berbuah penyesalan. Seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya mengakui kekeliruan tersebut secara blak-blakan.
“Jika ada kesalahan taktis atau kekeliruan yang kami buat menjelang perang dengan Iran, inilah kesalahan itu,”ujar pejabat tersebut kepada Axios.
Ancaman Nyata di Timur Tengah
Drane Shahed buatan Iran terbukti menjadi mimpi buruk bagi pasukan AS di Timur Tengah. Dengan biaya produksi murah namun daya hancur tinggi, drone ini dilaporkan telah menewaskan sejumlah tentara Amerika dalam beberapa serangan terpisah.
Yang lebih mengkhawatirkan, sistem pertahanan udara AS yang selama ini diandalkan ternyata tidak mampu mencegat seluruh gelombang serangan drone tersebut. Para pemimpin militer AS bahkan telah memberi pengarahan darurat kepada anggota parlemen pekan lalu, menyebut drone Iran sebagai tantangan yang jauh lebih besar dari perkiraan awal.
Teknologi anti-drone milik Ukraina kini dipandang sebagai solusi yang jauh lebih ekonomis dibandingkan sistem pertahanan konvensional mahal yang selama ini dipasang di pangkalan-pangkalan AS dan sekutunya.
Ukraina: Kami Telah Kirim Bantuan
Menanggapi situasi ini, Presiden Zelensky mengungkapkan bahwa Ukraina telah mengirimkan drone dan para ahli untuk membantu melindungi pangkalan militer Amerika di Yordania. Di saat yang sama, Ukraina secara terbuka meminta negara sekutu untuk menambah pasokan rudal Patriot buatan AS.
Gedung Putih Bantah Adanya Kesalahan
Di tengah pengakuan mengejutkan tersebut, Gedung Putih justru membantah keras anggapan bahwa pemerintah melakukan kesalahan strategis sebelum perang.
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa serangan balasan Iran justru mengalami penurunan drastis setelah kemampuan militer negara tersebut dihancurkan.
“Serangan balasan Iran telah turun 90 persen karena kemampuan rudal balistik mereka sedang dihancurkan secara total,” tegas Kelly kepada The Independent.
Kelly juga menepis kritik dari sumber anonim yang menilai pemerintah salah langkah.
“Karakterisasi yang dibuat oleh sumber anonim pengecut ini tidak akurat dan menunjukkan bahwa mereka hanya melihat dari luar,” ujarnya dengan nada keras.
Kelly menambahkan bahwa Menteri Pertahanan Pete Hegseth bersama jajaran militer telah merencanakan berbagai kemungkinan respons dari Iran. Menurutnya, keberhasilan operasi militer Amerika membuktikan ketepatan perencanaan tersebut.
“Menteri Hegseth dan angkatan bersenjata melakukan pekerjaan luar biasa dalam merencanakan semua kemungkinan respons dari rezim Iran, dan keberhasilan tak terbantahkan dari Operasi Epic Fury berbicara dengan sendirinya,” pungkas Kelly.
AS Kembangkan Drone Murah Tandingan
Di tengah kontroversi ini, militer Amerika ternyata telah bergerak cepat mengembangkan teknologi sendiri. Sebuah drone berjuluk “Lucas” diperkenalkan sebagai jawaban atas taktik drone murah Iran. Drone ini dirancang meniru konsep Shahed dengan biaya produksi rendah namun efektivitas tinggi.
Menariknya, putra-putra Presiden Trump, Eric Trump dan Donald Trump Jr, dikabarkan mendukung sebuah perusahaan drone berbasis di Florida yang berpotensi memasok teknologi tersebut kepada militer.
Meski berbagai tantangan masih membayangi, pemerintah AS tetap optimistis bahwa kekuatan militer Iran telah dilemahkan secara signifikan. Pemerintahan Trump juga menyatakan perang dengan Iran akan segera berakhir, meskipun rincian rencana tersebut masih disimpan rapat dari publik.