JAKARTA – Fenomena penjualan produk kedaluwarsa yang dimanipulasi kembali menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial. Kasus ini mengungkap praktik curang yang tidak hanya merugikan konsumen secara finansial, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan. Modus ini terbilang rapi dan sulit dikenali oleh masyarakat awam, sehingga diperlukan kewaspadaan ekstra saat membeli produk, khususnya makanan dan minuman kemasan.
Praktik manipulasi tanggal kedaluwarsa bukanlah hal baru, namun kembali mencuat setelah aparat berhasil mengungkap peredaran ratusan produk yang telah melewati masa konsumsi. Dalam kasus tersebut, pelaku diketahui menghapus tanggal asli pada kemasan, kemudian menggantinya dengan tanggal baru agar produk terlihat masih layak dikonsumsi. Bahkan, dalam beberapa temuan, tanggal kedaluwarsa dimundurkan hingga beberapa bulan demi meningkatkan nilai jual produk
Modus operandi yang digunakan pelaku cukup sederhana namun efektif. Mereka menggunakan cairan kimia seperti thinner untuk menghapus label tanggal kedaluwarsa yang asli. Setelah itu, pelaku mencetak ulang tanggal baru menggunakan alat khusus agar tampilan kemasan tetap meyakinkan. Dengan cara ini, produk yang seharusnya sudah tidak layak konsumsi bisa kembali beredar di pasaran seolah-olah masih aman.
Dari sisi ekonomi, praktik ini sangat menggiurkan bagi pelaku. Produk yang sudah kedaluwarsa biasanya dibeli dengan harga sangat murah, bahkan jauh di bawah harga normal. Setelah dimanipulasi, produk tersebut dijual kembali dengan harga mendekati harga pasar, sehingga menghasilkan keuntungan berlipat. Namun, keuntungan tersebut jelas mengorbankan keselamatan konsumen.
Bahaya dari mengonsumsi produk kedaluwarsa tidak bisa dianggap remeh. Produk yang telah melewati masa berlaku berisiko mengalami penurunan kualitas, baik dari segi rasa, tekstur, hingga kandungan nutrisi. Lebih dari itu, makanan atau minuman kedaluwarsa dapat menjadi sarang bakteri berbahaya yang bisa menyebabkan keracunan, gangguan pencernaan, hingga penyakit serius lainnya. Bahkan, dalam beberapa kasus, konsumsi produk tidak layak dapat berujung pada kondisi yang mengancam jiwa.
Pemerintah dan instansi terkait sebenarnya telah melakukan berbagai upaya pengawasan untuk mencegah peredaran produk kedaluwarsa. Menjelang momen tertentu seperti hari besar keagamaan, pengawasan biasanya diperketat karena peredaran produk meningkat signifikan. Masyarakat pun diimbau untuk selalu teliti sebelum membeli, termasuk memeriksa tanggal kedaluwarsa dan kondisi kemasan produk.
Selain itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersama Satgas Pangan rutin melakukan inspeksi ke pasar, swalayan, dan pusat distribusi untuk memastikan produk yang beredar aman dikonsumsi. Namun, pengawasan ini tentu tidak bisa berjalan maksimal tanpa peran aktif masyarakat sebagai konsumen.
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menghindari produk hasil manipulasi. Pertama, periksa kondisi fisik kemasan. Jika terdapat bekas gosokan, tinta yang tidak rapi, atau tulisan yang tampak dicetak ulang, sebaiknya produk tersebut dihindari. Kedua, bandingkan tanggal kedaluwarsa dengan kondisi produk. Jika tampilan produk sudah tidak segar namun tanggal masih panjang, patut dicurigai. Ketiga, belilah produk di tempat terpercaya yang memiliki reputasi baik.
Selain itu, konsumen juga perlu lebih kritis terhadap harga yang terlalu murah. Produk dengan harga jauh di bawah pasaran bisa jadi merupakan barang yang sudah mendekati atau bahkan melewati masa kedaluwarsa. Dalam kondisi seperti ini, penting untuk tidak mudah tergiur demi menjaga kesehatan.
Kasus viral ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Pelaku usaha harus menjunjung tinggi etika bisnis, sementara konsumen perlu meningkatkan kewaspadaan. Jika menemukan indikasi kecurangan, masyarakat juga diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditindaklanjuti.
Dengan meningkatnya kesadaran publik, diharapkan praktik curang seperti ini dapat diminimalisir. Jangan sampai keuntungan segelintir pihak justru membahayakan banyak orang. Ingat, keselamatan dan kesehatan jauh lebih berharga daripada sekadar harga murah.