Berniat memberikan panggung megah bagi kembalinya BTS ke Indonesia pada Desember 2026, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, justru harus merasakan kuatnya solidaritas komunitas penggemar grup tersebut. Alih-alih mendapat tepuk tangan, usulannya menjadikan Jakarta International Stadium (JIS) sebagai lokasi konser justru menuai protes keras dari para ARMY.
Dalam acara Halal Bihalal bersama Ikatan Orang Tua Mahasiswa ITB, Pramono menceritakan pengalamannya menjadi sasaran kritik para penggemar yang menganggap akses menuju JIS masih menjadi tantangan besar dibandingkan kawasan pusat kota.
Lucunya, “perlawanan” terhadap ide sang Gubernur tidak hanya menggema di media sosial, tapi juga di dalam kediamannya. Anak Pramono, yang kebetulan seorang ARMY garis keras, sampai harus melakukan “intervensi” langsung.
“Waduh, ARMY-nya marah semua sama saya. Anak saya juga ARMY, sampai saya bangun tidur diketok pintu kamar saya. Dia bilang, ‘Dad, ngapain ngurusin ARMY? Sudahlah biar ARMY yang menikmati’. Saya bilang, oke deh mulai hari ini Bapakmu tidak statement lagi. Saya menyerahkan kepada Gusti Allah saja,” ujar Pramono sambil tertawa lepas.
Tantangan Infrastruktur vs Kenyamanan Penonton
Pramono sebelumnya melihat potensi besar untuk memamerkan kecanggihan JIS sebagai stadion kelas dunia. Pemprov DKI Jakarta memang tengah berupaya keras membenahi kawasan tersebut melalui:
-
Konektivitas KRL: Pembangunan jalur kereta langsung ke area stadion.
-
Integrasi Ancol: Menjadikan Ancol sebagai solusi kantong parkir masif.
-
Transportasi Publik: Penguatan armada bus agar penonton bebas dari kemacetan.
Namun, bagi ARMY, sejarah panjang dan kemudahan akses Gelora Bung Karno (GBK) tetap menjadi favorit utama. Menyadari kenyamanan penonton adalah segalanya, Pramono memilih untuk tidak ambil pusing dan menurunkan egonya.
Menyerahkan “Panggung” kepada Ahlinya
Melihat reaksi yang begitu masif, sang Gubernur kini memilih untuk mundur dari urusan teknis penentuan lokasi. Ia menegaskan tidak keberatan jika akhirnya GBK yang menjadi saksi sejarah kembalinya RM dan kawan-kawan.
“Anak saya bilang, ‘Udah lah Bapak, biar mainnya di GBK saja’. Saya ikuti saja apa keinginan publik,” tambahnya.
Sikap rendah hati sang Gubernur ini menunjukkan bahwa dalam konser sebesar BTS, suara penggemar adalah kunci utama. Kini, keputusan akhir berada di tangan promotor, sementara Pramono memilih untuk mendukung di balik layar agar Jakarta tetap menjadi tuan rumah yang ramah bagi gelombang besar K-Pop di masa depan.