JAKARTA – Amerika Serikat memutuskann menghentikan sementara pengawalan kapal komersial di Selat Hormuz hanya sehari setelah dimulai.
Presiden Donal Trump menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan damai dengan Iran.
Trump menegaskan bahwa “kemajuan besar telah dicapai” menuju perjanjian dengan Teheran, sehingga operasi pemanduan kapal dihentikan sementara untuk memberi ruang bagi proses diplomasi. Meski begitu, ia menambahkan bahwa blokade pelabuhan Iran “akan tetap berlaku sepenuhnya.”
Beberapa jam sebelumnya, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan operasi ofensif terhadap Iran telah selesai, namun AS tetap menyiapkan respons “menghancurkan” jika terjadi serangan baru terhadap jalur pelayaran. Komando Pusat AS juga menegaskan kesiapan melanjutkan operasi tempur bila diperintahkan, seperti dilansir Hurriyet Daily News, Rabu (6/5/2026).
Di sisi lain, media Iran melaporkan kedatangan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi di Beijing untuk bertemu dengan Menlu Tiongkok Wang Yi. Garda Revolusi Iran memperingatkan akan ada “tanggapan tegas” jika kapal menyimpang dari rute yang disepakati, sementara Teheran membantah tuduhan serangan rudal dan drone yang dilontarkan UEA.
Ketegangan meningkat setelah serangan balasan antara kedua pihak di jalur perdagangan penting tersebut. Meski gencatan senjata rapuh, Trump mendesak Iran untuk “melakukan hal yang cerdas” dan mencapai kesepakatan. Pentagon menegaskan AS tidak mencari pertempuran, tetapi siap memberikan kekuatan “luar biasa dan menghancurkan” jika diperlukan.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran global. Uni Eropa menyebut serangan di Teluk “tidak dapat diterima” dan memperingatkan dampak langsung terhadap ekonomi Eropa. Para pemimpin Jerman, Prancis, dan Inggris mendesak Iran kembali ke meja perundingan.
Sementara itu, pasar saham Eropa dan AS menguat, namun ketidakpastian gencatan senjata membebani bursa Asia. Dengan biaya energi yang terus meningkat, tekanan politik terhadap Trump juga bertambah menjelang pemilu paruh waktu.