JAKARTA – Wacana kontroversial kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dikabarkan tengah mempertimbangkan secara serius menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut mencuat setelah percakapan telepon antara Trump dan koresponden Fox News, John Roberts, yang kemudian mengungkapnya melalui media sosial X.
“Baru saja berbicara dengan Donald Trump, ia mengatakan sedang mempertimbangkan langkah untuk menjadikan Venezuela sebagai negara bagian ke-51,” tulis Roberts dalam unggahannya dilansir Wales Online, Selasa (12/5/2026).
Gagasan ini sebenarnya bukan pertama kali disampaikan Trump karena ia telah beberapa kali menyinggung kemungkinan tersebut dalam berbagai kesempatan publik.
Salah satu momen yang memicu pernyataan itu terjadi saat Venezuela mencetak kemenangan mengejutkan di ajang World Baseball Classic 2026.
Trump saat itu menulis di Truth Social, “Hal-hal baik sedang terjadi di Venezuela, saya penasaran apa rahasia di balik ini, apakah status negara bagian ke-51?”
Pernyataan tersebut kembali ditegaskan sehari setelah Venezuela mengalahkan Amerika Serikat di final dengan unggahan singkat berbunyi, “Statehood!!!”
Di balik wacana tersebut, situasi geopolitik memanas setelah Amerika Serikat meningkatkan intervensi militernya di Venezuela.
Serangan udara dilaporkan dilakukan pada 3 Januari sebelum pasukan AS berhasil menangkap mantan Presiden Nicolás Maduro di kompleks militer Fort Tiuna, Caracas.
Maduro bersama istrinya kemudian dibawa ke Amerika Serikat dan kini ditahan di Metropolitan Detention Centre, Brooklyn.
Pemerintah AS menuduh Maduro terlibat dalam berbagai kejahatan serius termasuk konspirasi narkoterorisme tanpa merinci bukti yang dipublikasikan ke publik.
Trump juga menuduh Maduro bertanggung jawab atas lonjakan peredaran narkoba seperti fentanyl dan kokain yang masuk ke wilayah Amerika Serikat.
Selain itu, ia mengklaim bahwa rezim Maduro telah “mengosongkan penjara dan rumah sakit jiwa” untuk mengirimkan migran ke AS.
Sepanjang masa jabatan keduanya, Trump diketahui kerap melontarkan ambisi ekspansi wilayah termasuk terhadap Greenland dan Kanada.
Dalam salah satu unggahan kontroversial, ia bahkan membagikan gambar hasil kecerdasan buatan yang memperlihatkan bendera AS membentang di atas Kanada, Greenland, dan Venezuela.
Saat berpidato di Kongres pada Maret, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan menguasai Greenland “dengan cara apa pun.”
Langkah dan pernyataan Trump ini memicu perdebatan global mengenai batas kedaulatan, intervensi militer, dan arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinannya.***