WASHINGTON, AS — Puluhan anggota Kongres dari Partai Demokrat mendesak pemerintah Amerika Serikat membuka informasi terkait dugaan kepemilikan senjata nuklir Israel. Tekanan politik ini dinilai sebagai langkah langka karena untuk pertama kalinya muncul secara terkoordinasi dari parlemen AS terhadap isu yang selama puluhan tahun dianggap tabu di Washington.
Sebanyak 30 anggota Kongres menandatangani surat resmi kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada 4 Mei 2026. Dalam surat itu, mereka meminta penjelasan rinci mengenai kemampuan nuklir Israel, termasuk jumlah hulu ledak, fasilitas produksi plutonium, hingga doktrin penggunaan senjata nuklir di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Langkah tersebut muncul ketika hubungan AS dan Israel mulai mendapat sorotan tajam, terutama setelah perang di Gaza dan meningkatnya ketegangan dengan Iran. Desakan transparansi ini juga memperlihatkan perubahan sikap sebagian politisi Demokrat terhadap dukungan tradisional Washington kepada Tel Aviv.
“Kongres memiliki tanggung jawab konstitusional untuk sepenuhnya mengetahui keseimbangan nuklir di Timur Tengah,” tulis para anggota parlemen dalam surat tersebut.
Mereka menambahkan, “Kami tidak yakin telah menerima informasi tersebut.”
Soroti Ambiguitas Nuklir Israel
Selama puluhan tahun Israel mempertahankan kebijakan “ambiguitas nuklir”, yakni tidak pernah mengakui maupun membantah kepemilikan senjata nuklir.
Meski demikian, berbagai laporan intelijen, dokumen rahasia yang telah dibuka, hingga kesaksian mantan pejabat AS mengindikasikan bahwa Israel telah memiliki kemampuan nuklir sejak dekade 1960-an.
Dalam suratnya, para anggota Kongres menilai kebijakan ambigu tersebut justru memperumit upaya nonproliferasi di kawasan Timur Tengah.
“Kebijakan ambiguitas resmi tentang kemampuan nuklir salah satu pihak dalam konflik ini membuat kebijakan nonproliferasi yang koheren di Timur Tengah menjadi tidak mungkin,” bunyi surat itu.
Mereka menilai negara-negara seperti Iran maupun Arab Saudi mengambil keputusan strategis berdasarkan persepsi atas kemampuan militer negara tetangga mereka, termasuk Israel.
Fokus pada Reaktor Dimona
Salah satu fokus utama surat tersebut adalah Pusat Penelitian Nuklir Negev di Dimona, fasilitas yang sejak lama diyakini menjadi inti program nuklir Israel.
Para legislator meminta pemerintah AS menjelaskan apakah Israel masih memiliki kemampuan pengayaan uranium dan sejauh mana kapasitas produksinya.
“Apakah Israel saat ini memiliki kemampuan pengayaan uranium, dan pada tingkat berapa?” tulis mereka dalam surat tersebut.
Selain itu, mereka juga meminta penjelasan mengenai stok bahan fisil, produksi plutonium, hingga kesiapan sistem peluncur nuklir Israel.
Pertanyaan lain yang dianggap sensitif adalah terkait kemungkinan penggunaan senjata nuklir dalam konflik melawan Iran.
“Apakah pemerintah telah menerima jaminan dari Israel bahwa senjata nuklir tidak akan digunakan?” demikian isi pertanyaan dalam surat tersebut.
Para anggota Kongres juga mempertanyakan apakah terdapat indikasi Israel pernah mempertimbangkan pengerahan senjata nuklir selama eskalasi terbaru dengan Teheran.
Jejak Panjang Program Nuklir Israel
Dugaan kepemilikan senjata nuklir Israel sebenarnya telah menjadi rahasia umum dalam politik internasional.
Dokumen intelijen AS menunjukkan CIA pernah melaporkan kepada Presiden Lyndon B. Johnson pada 1968 bahwa Israel telah mengembangkan atau setidaknya mampu membuat senjata nuklir.
Beberapa tahun kemudian, Presiden Richard Nixon dilaporkan mencapai kesepakatan tidak tertulis dengan Perdana Menteri Israel Golda Meir. Dalam kesepakatan itu, Israel tidak akan menguji atau mengumumkan senjata nuklirnya, sementara Washington menghentikan tekanan pengawasan internasional.
Rahasia tersebut semakin mencuat ketika teknisi nuklir Israel, Mordechai Vanunu, membocorkan informasi fasilitas Dimona kepada media Inggris pada akhir 1980-an.
Dalam surat kepada Rubio, para legislator Demokrat menegaskan bahwa catatan publik selama puluhan tahun konsisten mengarah pada kesimpulan bahwa Israel memang memiliki persenjataan nuklir.
Mereka juga mengutip pernyataan mantan calon Menteri Pertahanan AS Robert Gates yang pada 2006 menyebut Israel sebagai salah satu “kekuatan dunia yang memiliki senjata nuklir”.
Diperkirakan Miliki 90 Hulu Ledak Nuklir
Lembaga kajian Nuclear Threat Initiative (NTI) yang berbasis di Washington memperkirakan Israel memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir.
Israel juga disebut mempunyai cadangan plutonium antara 750 hingga 1.110 kilogram, enam kapal selam yang mampu membawa senjata nuklir, serta rudal balistik jarak menengah dengan jangkauan ribuan kilometer.
Meski begitu, pemerintah Israel hingga kini tetap menolak memberikan konfirmasi resmi terkait angka maupun keberadaan arsenal nuklirnya.
Sikap diam serupa juga dipertahankan Gedung Putih selama bertahun-tahun.
Tekanan Politik terhadap Israel Meningkat
Munculnya surat dari 30 anggota Kongres Demokrat dinilai sebagai sinyal meningkatnya tekanan internal terhadap kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah.
Dalam beberapa bulan terakhir, sebagian legislator Demokrat mulai lebih vokal mengkritik dukungan militer Washington kepada Israel.
Pada April lalu, sekitar 40 senator Demokrat mendukung rancangan undang-undang untuk memblokir penjualan buldoser militer ke Israel, meski akhirnya gagal lolos.
Pengamat menilai dinamika ini menunjukkan adanya pergeseran politik di tubuh Partai Demokrat, terutama setelah perang Gaza memicu kritik luas dari publik internasional.
Direktur kebijakan Institute for Middle East Understanding Policy Project, Josh Reubner, mengatakan langkah anggota Kongres tersebut sangat relevan di tengah perang AS-Israel melawan Iran.
“Inisiatif ini berlangsung di tengah latar belakang perang agresi AS-Israel terhadap Iran,” kata Reubner kepada Al Jazeera.
Ia menambahkan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump saat ini menjadikan penghentian program nuklir Iran sebagai salah satu tujuan utama kebijakan luar negerinya.
Namun menurut Reubner, pendekatan Washington dianggap tidak konsisten karena Israel justru memperoleh kelonggaran terkait program nuklirnya.
“Anggota Kongres benar untuk mempertanyakan mengapa pengembangan senjata nuklir Israel mendapat kelonggaran sementara kita berusaha mencegah Iran memperolehnya,” ujarnya.
Isu Nuklir Timur Tengah Kembali Memanas
Desakan transparansi terhadap Israel berpotensi memicu perdebatan baru mengenai keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Iran selama bertahun-tahun membantah tuduhan bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun AS dan sekutunya terus menekan Teheran melalui sanksi ekonomi dan pengawasan internasional.
Kini, sebagian anggota Kongres AS mulai mempertanyakan standar ganda dalam kebijakan nonproliferasi Washington.
Jika tekanan politik ini terus berkembang, isu nuklir Israel yang selama puluhan tahun diselimuti “kebijakan diam” berpotensi menjadi salah satu perdebatan paling sensitif dalam politik luar negeri Amerika Serikat.


