JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah lawatan Presiden AS Donald Trump ke China tidak menghasilkan terobosan berarti terkait pembukaan Selat Hormuz maupun penyelesaian kebuntuan program nuklir Teheran. Situasi ini memicu kekhawatiran baru akan pecahnya konflik berskala lebih besar di kawasan Timur Tengah.
Pemerintahan Trump kini disebut mulai membuka kembali opsi militer setelah jalur diplomasi dinilai belum membuahkan hasil konkret. Laporan The New York Times menyebut pejabat tinggi AS telah menyiapkan sejumlah skenario serangan terhadap Iran apabila negosiasi benar-benar menemui jalan buntu.
Persiapan militer tersebut disebut menjadi yang terbesar sejak gencatan senjata diumumkan pada 7 April lalu. Washington bersama Israel dikabarkan telah meningkatkan kesiapan tempur, termasuk membahas kemungkinan serangan baru dalam waktu dekat.
Trump sendiri menunjukkan sikap keras terhadap proposal terbaru Iran. Dalam perjalanan pulang dari Beijing menggunakan Air Force One, ia mengaku langsung menolak tawaran tersebut tanpa mempertimbangkannya lebih jauh.
“Saya melihatnya, dan jika saya tidak menyukai kalimat pertama, saya langsung membuangnya,” ujar Trump kepada wartawan.
Pernyataan itu memperlihatkan minimnya ruang kompromi yang tersisa dalam negosiasi terbaru antara Washington dan Teheran.
China Belum Beri Langkah Konkret
Di sisi lain, China yang sebelumnya diharapkan dapat memainkan peran penting dalam meredakan konflik juga belum menunjukkan komitmen nyata untuk melakukan intervensi diplomatik secara langsung.
Pemerintah Beijing hanya menyampaikan pernyataan normatif bahwa konflik tersebut semestinya tidak terjadi dan tidak memiliki alasan untuk terus berlanjut. Namun, tidak ada langkah konkret yang diumumkan terkait upaya membuka kembali Selat Hormuz.
Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial dalam konflik ini. Jalur laut strategis tersebut praktis ditutup Iran untuk sebagian besar pelayaran komersial setelah serangan gabungan AS-Israel dimulai pada 28 Februari.
Walaupun gencatan senjata telah diumumkan pada awal April, Iran tetap mengaitkan pembukaan penuh jalur pelayaran itu dengan penghentian blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka.
Sebelum konflik pecah, hampir 20 persen distribusi minyak dunia dan gas alam cair melewati Selat Hormuz. Penutupan jalur itu langsung memicu gangguan rantai pasok energi global dan meningkatkan volatilitas harga minyak internasional.
Dalam beberapa kesempatan, Trump terus menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan Iran menguasai senjata nuklir maupun mempertahankan kontrol atas jalur perdagangan energi dunia.
“Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir, kami ingin selat itu terbuka,” kata Trump saat berada di Beijing.
Israel Tegaskan Perang Belum Selesai
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga memperlihatkan nada serupa. Ia menilai konflik belum benar-benar berakhir selama fasilitas nuklir Iran masih beroperasi.
Netanyahu menegaskan bahwa material nuklir dan lokasi pengayaan uranium Iran harus dilumpuhkan sepenuhnya agar ancaman terhadap Israel dapat diakhiri.
Sinyal eskalasi juga datang dari Pentagon. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengonfirmasi bahwa militer Amerika telah menyiapkan berbagai opsi, mulai dari peningkatan tekanan hingga langkah de-eskalasi jika diperlukan.
“Kami memiliki rencana untuk meningkatkan eskalasi jika perlu,” ujar Hegseth di hadapan anggota parlemen AS.
Menurut laporan media AS, salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah memperluas kampanye pengeboman terhadap infrastruktur militer Iran. Selain itu, ada pula skenario operasi khusus yang menargetkan fasilitas nuklir bawah tanah di Isfahan.
Laporan tersebut juga menyebut ratusan personel Operasi Khusus AS telah dikerahkan sejak awal tahun guna mempersiapkan kemungkinan misi semacam itu.
Ribuan Pasukan AS Siaga Tempur
Meski gencatan senjata masih berlaku, Amerika Serikat tetap mempertahankan kekuatan militer besar di kawasan Timur Tengah.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengatakan lebih dari 50 ribu personel militer saat ini berada dalam status siaga. Selain itu, dua kapal induk, kapal perusak Angkatan Laut, serta puluhan jet tempur juga telah diposisikan untuk menghadapi kemungkinan operasi berskala besar.
“Operasi tempur besar” disebut tetap menjadi opsi apabila situasi kembali memburuk dan perintah serangan diberikan.
Sementara itu, Iran dikabarkan mulai memulihkan kembali sebagian besar infrastruktur militernya, terutama fasilitas rudal di sekitar Selat Hormuz. Dari 33 lokasi rudal strategis, sekitar 30 di antaranya disebut sudah kembali beroperasi.
Pemerintah Iran pun memberi sinyal bahwa mereka siap menghadapi kemungkinan agresi baru dari AS maupun Israel.
“Angkatan bersenjata kami siap memberikan respons yang setimpal terhadap setiap agresi,” tegas Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Teheran sebenarnya masih membuka ruang diplomasi. Namun, Iran mengaku kehilangan kepercayaan terhadap Washington setelah perundingan sebelumnya berujung pada operasi militer.
Harga Minyak Mulai Naik
Kembalinya ancaman konflik terbuka di Timur Tengah langsung berdampak terhadap pasar energi global. Harga minyak dunia kembali bergerak naik di tengah kekhawatiran investor bahwa jalur diplomasi akan runtuh sepenuhnya.
Pelaku pasar menilai setiap eskalasi di Selat Hormuz berpotensi mengganggu distribusi energi internasional dalam skala besar. Jika konflik kembali pecah, tekanan terhadap ekonomi global diperkirakan akan semakin berat, terutama bagi negara-negara pengimpor minyak.
Di tengah situasi tersebut, kritik terhadap kebijakan Trump juga mulai menguat. Sejumlah pengamat menilai operasi militer sebelumnya belum mencapai tujuan utama Washington karena Iran belum menghentikan program nuklirnya maupun membuka penuh akses pelayaran di Selat Hormuz.
Dengan tensi yang terus meningkat dan kedua pihak tetap mempertahankan posisi keras masing-masing, kawasan Timur Tengah kini kembali berada di ambang eskalasi besar yang dapat memicu dampak global lebih luas.