TEHERAN, IRAN – Iran menggantung seorang pria bernama Mojtaba Kian pada Minggu pagi. Ia menjadi terpidana mati pertama yang dieksekusi karena tuduhan spionase yang dilakukan selama konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pengadilan Iran melalui situs resmi Mizan Online mengumumkan eksekusi tersebut. “Mojtaba Kian… yang mengirimkan informasi terkait unit industri pertahanan negara kepada musuh, digantung pagi ini,” demikian bunyi pernyataan lembaga peradilan.
Nama yang Sama dengan Putra Pemimpin Tertinggi
Kasus ini menarik perhatian karena nama depan terpidana sama dengan nama putra Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Meski tidak ada indikasi hubungan keluarga, kesamaan nama tersebut menjadi sorotan di tengah sensitivitas keamanan internal Iran.
Menurut pengumuman resmi, Kian mengirimkan informasi sensitif berupa koordinat dan detail fasilitas produksi suku cadang industri pertahanan kepada jaringan musuh yang berafiliasi dengan “Zionis-Amerika”. Informasi yang ia sampaikan disebut telah menyebabkan satu lokasi di Iran menjadi target serangan selama perang.
“Hukuman tersebut dilaksanakan pagi ini setelah selesainya formalitas hukum,” tulis Mizan Online.
Kronologi Cepat: Ditangkap hingga Dieksekusi Kurang dari 50 Hari
Eksekusi Kian berlangsung kurang dari 50 hari setelah penangkapannya, sebuah proses yang relatif cepat menurut standar peradilan Iran. Selain hukuman mati, aset miliknya juga telah disita negara.
Perang yang dimaksud meletus pada 28 Februari setelah serangan AS-Israel yang menewaskan sejumlah pemimpin senior Iran. Konflik tersebut berlangsung hampir 40 hari dan memicu serangan balasan Teheran di berbagai wilayah Timur Tengah.
Kian disebut mengirim informasi melalui jaringan televisi satelit. Meski tidak disebutkan nama spesifik, otoritas Iran kerap menuduh media berbahasa Persia berbasis luar negeri sebagai bagian dari jaringan intelijen Israel.
Lonjakan Eksekusi di Tengah Ketegangan Perang
Eksekusi terhadap Mojtaba Kian menandai eskalasi baru dalam kebijakan Iran. Sejak pecahnya perang, Teheran telah memperketat hukuman bagi siapa pun yang diduga berkolaborasi dengan Israel dan Amerika Serikat. Sebelumnya, eksekusi spionase yang dilakukan selama perang belum pernah terjadi.
Pada Kamis pekan yang sama, Iran juga mengeksekusi dua pria lain yang dihukum karena pemberontakan bersenjata dan keanggotaan dalam kelompok yang disebut “teroris separatis” — istilah yang biasa digunakan untuk merujuk pada kelompok Kurdi Iran.
Iran saat ini menduduki peringkat kedua negara dengan jumlah eksekusi tertinggi di dunia setelah China, menurut catatan Amnesty International dan organisasi hak asasi manusia lainnya.
Latar Belakang dan Dampak
Kasus ini mencerminkan upaya keras rezim Iran untuk membersihkan ancaman internal di tengah konflik regional. Dengan mengeksekusi cepat terpidana spionase, Teheran ingin mengirim pesan tegas bahwa pengkhianatan terhadap negara, terutama di masa perang, tidak akan ditoleransi.
Namun, praktik hukuman mati massal ini juga menuai kritik internasional. Kelompok hak asasi manusia menyebut proses peradilan di Iran sering kali kurang transparan dan minim akses pembelaan yang memadai.