MAKKAH, ARAB SAUDI – Jutaan jemaah haji yang melaksanakan wukuf di Padang Arafah pada Senin (25/5/2026) menghadapi tantangan cuaca ekstrem dengan suhu mencapai 45-47 derajat Celcius. Keringat yang cepat menguap di udara gurun dengan kelembapan hanya 28 persen meningkatkan risiko dehidrasi dan heatstroke, terutama bagi jemaah Indonesia.
Kementerian Agama (Kemenag) melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengaktifkan protokol mitigasi heatstroke secara menyeluruh. Fokus utama bukan hanya pada bantuan medis massal, melainkan pada intervensi mandiri yang cepat dan tepat oleh setiap jemaah.
Dokter PPIH Arab Saudi, Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, menekankan pentingnya kesadaran individu dalam menghadapi ancaman sengatan panas.
“Jemaah perlu mengetahui upaya mandiri mendinginkan tubuh agar tidak terkena kelelahan panas atau sengatan panas,” ungkap dr. Fathi kepada Tim Media Center Haji.
Menurut dr. Fathi, banyak jemaah masih melakukan kesalahan mendasar saat merasa kepanasan. Kebanyakan hanya mengompres dahi, padahal titik pendinginan paling efektif adalah pembuluh darah besar di area leher, ketiak, dan lipatan paha. Meletakkan handuk basah di titik-titik tersebut dapat menurunkan suhu tubuh lebih cepat melalui sirkulasi darah.
Selain itu, dokter Fathi merekomendasikan teknik semprotan air manual sebagai langkah sederhana namun powerful.
“Sediakan botol semprot kecil berisi air di dalam tas. Semprotkan air tipis-tipis ke wajah, lengan, dan leher, lalu kipas secara manual,” jelasnya.
Teknik ini memanfaatkan penguapan air untuk menyerap panas dari permukaan kulit, terutama saat dibantu kipas angin portabel yang banyak dibawa jemaah.
Pakaian juga menjadi faktor krusial dalam protokol mitigasi heatstroke. Jemaah diminta segera mengganti pakaian berwarna gelap yang cenderung menyerap dan memerangkap panas. Sebaliknya, gunakan pakaian berbahan katun tipis, berwarna cerah, dan longgar agar sirkulasi udara lancar serta keringat dapat menguap dengan baik.
Dokter Fathi juga mengingatkan jemaah untuk selalu peka terhadap sinyal tubuh. Gejala awal heatstroke meliputi kram otot, pusing berputar, mual, dan detak jantung yang meningkat drastis. Kondisi yang lebih berbahaya terjadi ketika tubuh berhenti berkeringat dan kulit terasa kering serta panas seperti terbakar.
“Segera cari petugas kesehatan jika jemaah mulai mengalami gejala mulai dari kram otot, pusing berputar, mual, jantung berdebar cepat, atau keringat keluar sangat deras,” tegas dr. Fathi.
Protokol mitigasi heatstroke tahun ini menekankan dua pilar utama: pencegahan mandiri dan respons cepat berbasis komunitas. Meski petugas kesehatan PPIH dikerahkan 24 jam penuh di Armuzna, jumlah jemaah yang sangat besar membuat solidaritas antar-jemaah menjadi faktor penentu keselamatan.
Cuaca ekstrem di Arafah tahun ini menjadi pengingat bahwa ibadah haji tidak hanya menguji ketahanan spiritual, tetapi juga fisik. Dengan memahami dan menerapkan protokol mitigasi heatstroke secara disiplin, jemaah diharapkan dapat menyelesaikan puncak wukuf dengan selamat dan tetap fokus beribadah.
Kemenag terus mengimbau seluruh jemaah untuk tidak ragu meminta bantuan jika merasakan gejala tidak nyaman, sekaligus terus menjaga asupan cairan dan menghindari aktivitas di bawah terik matahari langsung tanpa perlindungan yang memadai.