JAKARTA – Pertandingan persahabatan antara tim nasional Amerika Serikat dan Jerman menjelang Piala Dunia 2026 tidak hanya menyajikan persaingan sengit di atas lapangan, tetapi juga memunculkan ketegangan yang nyaris berujung bentrokan antarpemain.
Bermain di bawah guyuran hujan di Soldier Field, Chicago, Sabtu (6/6/2026) waktu setempat, skuad Amerika Serikat harus mengakui keunggulan Jerman dengan skor tipis 1-2 di hadapan stadion yang dipenuhi puluhan ribu penonton.
Meski kalah, tim asuhan Mauricio Pochettino menunjukkan perkembangan positif yang menjadi modal penting menjelang tampil di Piala Dunia 2026.
Pertandingan Berjalan Ketat
Statistik pertandingan menunjukkan duel berlangsung relatif seimbang sepanjang laga.
Amerika Serikat mencatatkan penguasaan bola sebesar 53 persen dan melepaskan 16 tembakan, sementara Jerman menghasilkan 12 percobaan ke gawang lawan.
Namun sorotan utama justru muncul pada masa tambahan waktu ketika tensi pertandingan meningkat drastis.
Insiden bermula saat bek Jerman Jonathan Tah berusaha menghentikan gelandang Amerika Serikat Brenden Aaronson dalam perebutan bola panjang.
Tak lama kemudian, Timothy Weah melakukan tekel keras terhadap bek sayap Jerman David Raum pada menit ke-91.
Aksi tersebut langsung memancing reaksi keras dari kubu Jerman.
Keributan Pecah di Menit Akhir
Bek Jerman Nico Schlotterbeck berlari menghampiri Weah dan meluapkan emosinya dengan menunjuk wajah sang pemain Amerika Serikat.
Situasi semakin memanas setelah Tah dan Waldemar Anton ikut mendekati lokasi insiden.
Sejumlah pemain Amerika Serikat kemudian berlari memberikan dukungan kepada Weah sehingga kerumunan pemain dari kedua kubu tak terhindarkan.
Wasit akhirnya mengeluarkan kartu kuning kepada Weah dan Schlotterbeck guna meredam situasi yang semakin memanas.
Kericuhan tersebut menjadi gambaran tingginya intensitas persaingan menjelang dimulainya turnamen terbesar sepak bola dunia yang akan digelar di Amerika Utara.
Timothy Weah Kembali Menjadi Perhatian
Weah yang kini berusia 26 tahun diperkirakan akan memainkan peran penting bagi Amerika Serikat selama Piala Dunia mendatang.
Dalam pertandingan melawan Jerman, ia masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-72 menggantikan Sergiño Dest.
Putra legenda sepak bola Liberia sekaligus pemenang Ballon d’Or, George Weah, itu mengawali kariernya di New York sebelum berkembang di akademi Paris Saint-Germain.
Karier profesionalnya kemudian berkembang bersama Lille OSC dan Juventus sebelum bergabung dengan Olympique de Marseille.
Sepanjang musim terakhir, Weah tercatat berkontribusi dalam tujuh gol dari total lebih dari 3.100 menit bermain di berbagai kompetisi.
Pochettino Tetap Puas dengan Performa Tim
Meski menelan kekalahan, Pochettino menilai anak asuhnya telah menunjukkan karakter yang kuat menghadapi salah satu kekuatan utama sepak bola Eropa.
“Ini adalah tantangan luar biasa bagi kami untuk melihat bagaimana tim bereaksi, menunjukkan karakter, kebersamaan, dan kemampuan bermain di bawah tekanan,” ujar Pochettino seperti di lansir The Mirror US, Minggu (7/6/2026).
Amerika Serikat sebenarnya langsung berada dalam tekanan setelah kebobolan pada menit kedua melalui sundulan penyerang Jerman Kai Havertz.
Namun pelatih asal Argentina itu justru melihat momen tersebut sebagai ujian mental yang berhasil dijawab dengan baik oleh para pemainnya.
“Kami memang kecewa saat kebobolan cepat, tetapi respons yang ditunjukkan tim sungguh luar biasa,” katanya.
Pochettino juga mengaku mulai merasakan perkembangan signifikan dalam skuadnya setelah sekitar satu setengah tahun membangun tim menuju Piala Dunia.
Menurutnya, atmosfer yang tercipta dalam laga melawan Senegal dan Jerman memperlihatkan meningkatnya kepercayaan diri serta semangat juang para pemain.
Fokus ke Laga Pembuka Piala Dunia
Setelah menghadapi Jerman, perhatian Amerika Serikat kini tertuju pada pertandingan pembuka Piala Dunia 2026.
Tim berjuluk USMNT tersebut dijadwalkan menghadapi Tim Nasional Paraguay pada pekan depan di Los Angeles.
Laga tersebut akan menjadi ujian sesungguhnya bagi skuad Pochettino yang bertekad tampil maksimal di hadapan publik sendiri dalam turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.***