LIMA, PERU – Kepolisian Peru kembali menarik perhatian publik dengan metode operasi yang tidak biasa dalam memberantas peredaran narkotika. Memanfaatkan demam Piala Dunia 2026 yang mulai terasa di berbagai negara, aparat kepolisian menyamar sebagai maskot resmi turnamen sepak bola terbesar dunia itu untuk menangkap seorang terduga pengedar narkoba di Lima.
Aksi penggerebekan yang berlangsung di ibu kota Peru tersebut menjadi sorotan setelah videonya diunggah melalui akun resmi TikTok Kepolisian Peru. Dalam rekaman itu, sejumlah petugas terlihat mengenakan kostum Clutch si Elang Botak dan Maple si Rusa, dua maskot yang diperkenalkan untuk memeriahkan gelaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Video tersebut memperlihatkan para petugas berjalan santai menuju sebuah rumah yang menjadi target operasi. Penyamaran itu membuat keberadaan mereka tidak menimbulkan kecurigaan di lingkungan sekitar. Namun suasana berubah dalam hitungan detik ketika petugas mendobrak pintu menggunakan alat khusus dan langsung memasuki bangunan.
Di dalam rumah, aparat berhasil mengamankan seorang pria yang diduga terlibat dalam aktivitas peredaran narkoba. Polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa paket berisi serbuk putih yang diduga narkotika serta senjata api.
Unggahan video operasi tersebut disertai keterangan yang berbunyi, “Mode Piala Dunia: Operasi berakhir dengan jatuhnya ‘Pichichi’,” merujuk pada nama panggilan tersangka yang ditangkap dalam penggerebekan tersebut.
Manfaatkan Kecintaan Target terhadap Sepak Bola
Kepala Satuan Hijau Kepolisian Peru, Kolonel Carlos Fredy Alcántara Obregón, menjelaskan bahwa ide penyamaran itu bukan sekadar untuk menarik perhatian publik, melainkan bagian dari strategi yang disusun berdasarkan hasil penyelidikan intelijen.
Menurutnya, aparat menemukan fakta bahwa target operasi merupakan penggemar berat sepak bola dan sangat antusias menyambut Piala Dunia 2026.
“Berkat kerja intelijen, kami mengetahui orang yang akan ditangkap merupakan penggemar sepak bola sejati yang sangat antusias menyambut Piala Dunia,” ujar Alcántara kepada Associated Press.
Informasi tersebut kemudian dimanfaatkan polisi untuk menyusun pendekatan yang dinilai paling efektif. Dengan mengenakan kostum maskot Piala Dunia, petugas dapat mendekati lokasi target tanpa memancing kecurigaan.
Strategi itu terbukti berhasil. Aparat dapat bergerak lebih leluasa di sekitar lingkungan target sebelum akhirnya melakukan penggerebekan dan penangkapan.
“Kami memanfaatkan momentum yang sedang menjadi perhatian masyarakat untuk mendekati target secara lebih efektif,” kata Alcántara.
Taktik Penyamaran Jadi Senjata Polisi Peru
Penggunaan kostum maskot olahraga dalam operasi penegakan hukum sebenarnya bukan hal baru bagi Kepolisian Peru. Dalam beberapa tahun terakhir, aparat negara tersebut kerap menerapkan strategi penyamaran kreatif untuk mengecoh para pelaku kejahatan, terutama dalam kasus narkotika.
Pada Hari Valentine 2025, misalnya, seorang petugas menyamar sebagai kapibara yang membawa tas berbentuk kura-kura saat melakukan operasi penangkapan tersangka narkoba di Lima. Aksi unik tersebut sempat viral di media sosial dan menuai perhatian internasional.
Selain itu, polisi Peru juga beberapa kali menggunakan kostum karakter pahlawan super dalam sejumlah penggerebekan. Metode tersebut dinilai efektif karena mampu mengurangi kewaspadaan target sekaligus memberikan unsur kejutan saat operasi berlangsung.
Pendekatan kreatif itu menjadi bagian dari strategi kepolisian untuk menghadapi jaringan narkoba yang semakin adaptif terhadap pola operasi konvensional aparat penegak hukum.
Operasi Viral, Warganet Soroti Kreativitas Aparat
Video penggerebekan berkostum maskot Piala Dunia itu dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial. Banyak pengguna internet memuji kreativitas polisi Peru dalam menjalankan tugas pemberantasan narkotika.
Sebagian warganet menilai metode tersebut menunjukkan kemampuan aparat dalam membaca karakter target dan memanfaatkan momentum yang sedang menjadi perhatian publik. Di sisi lain, ada pula yang menyebut operasi tersebut layak menjadi contoh pendekatan nonkonvensional dalam penegakan hukum modern.
Meski terlihat unik dan menghibur, operasi tersebut tetap berujung pada hasil serius berupa penangkapan tersangka dan penyitaan barang bukti yang diduga terkait aktivitas peredaran narkotika.
Ironi di Tengah Demam Piala Dunia
Menariknya, keberhasilan operasi yang memanfaatkan tema Piala Dunia itu terjadi ketika Peru justru dipastikan tidak akan ambil bagian dalam turnamen tahun 2026.
Tim nasional Peru gagal mengamankan tiket ke putaran final setelah hanya mampu menempati posisi kesembilan dari 10 peserta dalam babak kualifikasi zona CONMEBOL. Hasil tersebut membuat La Blanquirroja kembali absen dari panggung sepak bola terbesar dunia.
Peru terakhir kali tampil di Piala Dunia pada edisi 2018 di Rusia. Setelah itu, mereka gagal mempertahankan konsistensi performa sehingga tidak mampu bersaing dengan negara-negara kuat Amerika Selatan dalam perebutan tiket menuju Piala Dunia berikutnya.
Meski tim nasionalnya tidak lolos, euforia turnamen tetap terasa di Peru. Fenomena itulah yang justru dimanfaatkan aparat kepolisian untuk menjalankan salah satu operasi anti-narkoba paling unik yang pernah dilakukan negara tersebut.
Dengan memadukan kerja intelijen dan penyamaran kreatif, Kepolisian Peru menunjukkan bahwa pemberantasan kejahatan tidak selalu dilakukan melalui cara-cara konvensional. Dalam kasus ini, dua maskot Piala Dunia yang identik dengan hiburan dan pesta sepak bola justru menjadi kunci keberhasilan aparat dalam menjebloskan seorang terduga pengedar narkoba ke tangan hukum.