JAKARTA – Dampak gempa magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah kembali bertambah serius dengan meningkatnya jumlah korban jiwa serta kerusakan luas di Kabupaten Sigi.
Korban meninggal dunia akibat gempa di Sulawesi Tengah kini tercatat bertambah menjadi tiga orang berdasarkan data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana.
Sebanyak 108 warga dilaporkan mengalami luka-luka dengan rincian 17 orang luka berat dan 91 lainnya luka ringan menurut laporan resmi BNPB.
Total warga terdampak mencapai 2.109 kepala keluarga atau sekitar 6.412 jiwa dengan konsentrasi dampak terparah berada di Kabupaten Sigi.
Tiga korban jiwa tersebut berasal dari sejumlah titik permukiman di Sigi yakni Desa Ampera di Kecamatan Palolo dan Desa Kamarora A di Kecamatan Nokilalaki.
Kerusakan hunian warga tercatat mencapai 1.652 unit rumah dengan dominasi kategori rusak ringan, sedang, hingga berat di berbagai wilayah terdampak.
Rinciannya meliputi 1.472 rumah rusak ringan, 111 rumah rusak sedang, dan 69 rumah rusak berat yang tersebar di area permukiman terdampak.
Selain rumah warga, fasilitas umum juga ikut terdampak termasuk 42 rumah ibadah, delapan gedung perkantoran, serta sejumlah fasilitas layanan publik.
Sejumlah bangunan pendidikan dan infrastruktur lain seperti 13 sekolah, dua rumah adat, serta delapan jaringan air bersih juga mengalami kerusakan signifikan.
Gempa tektonik tersebut terjadi pada 16 Juni 2026 pukul 11.27 WITA dengan kekuatan M 6,7 dan pusat gempa berada 42 kilometer tenggara Kota Palu pada kedalaman 10 kilometer.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, gempa ini tidak berpotensi tsunami namun diikuti aktivitas susulan yang intens.
Hingga 18 Juni 2026 tercatat sebanyak 703 gempa susulan terjadi dengan 25 di antaranya masih dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar.
Pemerintah Kabupaten Sigi menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk mempercepat penanganan bencana dan pemulihan wilayah terdampak.
Distribusi bantuan logistik seperti tenda, sembako, matras, hingga layanan darurat diperkuat dengan keterlibatan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia di lapangan.
Kepala BNPB dijadwalkan turun langsung ke lokasi untuk memastikan proses penanganan darurat berjalan efektif serta sesuai kebutuhan warga terdampak.
Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada, mengikuti informasi resmi, dan menghindari bangunan rusak hingga dinyatakan aman oleh petugas.***