TIANJIN, CHINA — Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional saat ini berada dalam kondisi yang kuat dan siap menghadapi berbagai gejolak global. Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, Indonesia dinilai mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus mempertahankan disiplin fiskal yang sehat.
Pesan optimistis tersebut disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat memberikan kuliah umum di Nankai University, Tianjin, Tiongkok. Dalam forum akademik yang dihadiri jajaran pimpinan universitas, profesor, dan ratusan mahasiswa itu, Purbaya memaparkan berbagai indikator yang menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang masih penuh tantangan.
Menurutnya, hubungan akademik antara Indonesia dan Tiongkok perlu terus diperkuat sebagai bagian dari upaya memperdalam pemahaman dan kerja sama kedua negara di berbagai bidang, termasuk ekonomi dan pembangunan.
“Adalah kehormatan besar bagi saya untuk berada di Nankai University. Hari ini, dengan sukacita saya membagikan perspektif Indonesia mengenai kebijakan ekonomi, manajemen fiskal, serta pembangunan nasional yang berkelanjutan. Saya berharap dialog ini memperkuat pertukaran akademik, memperdalam pemahaman bersama, dan semakin meningkatkan persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok,” ujar Purbaya.
Ekonomi Indonesia Tampil Menonjol
Di tengah mulai meredanya tekanan pasar global dan membaiknya sentimen investor internasional, Indonesia justru menunjukkan performa ekonomi yang lebih menonjol dibanding banyak negara lain.
Purbaya mengungkapkan bahwa pada kuartal pertama 2026, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara kelompok negara G20 maupun kawasan ASEAN.
Capaian tersebut dinilai tidak hanya mencerminkan kuatnya aktivitas ekonomi domestik, tetapi juga menunjukkan efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas dan mendorong produktivitas nasional.
“Indonesia terus tampil menonjol dengan pertumbuhan PDB Kuartal I-2026 sebesar 5,61% yoy, mengungguli banyak negara ekonomi G20 dan ASEAN. Di saat yang sama, kami mempertahankan stabilitas harga dengan inflasi Mei 2026 sebesar 3,08%. Perkembangan ini membuktikan bahwa Indonesia memasuki periode ini dengan pertumbuhan yang kuat, inflasi terkendali, dan ketahanan kebijakan yang kredibel,” kata Purbaya.
Pertumbuhan yang tinggi tersebut juga berlangsung bersamaan dengan terkendalinya inflasi. Hingga Mei 2026, tingkat inflasi tercatat sebesar 3,08 persen, menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga tanpa menimbulkan tekanan harga yang berlebihan.
Kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang solid dan inflasi yang stabil menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia.
Fiskal Tetap Disiplin, Defisit Dijaga di Bawah 3 Persen
Dalam pemaparannya, Purbaya juga menyoroti pentingnya disiplin fiskal sebagai fondasi utama ketahanan ekonomi nasional.
Pemerintah, kata dia, terus menjaga defisit anggaran berada di bawah batas maksimal 3 persen sebagaimana diamanatkan undang-undang. Kebijakan tersebut memberikan ruang yang cukup bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk merespons berbagai guncangan eksternal tanpa mengganggu stabilitas ekonomi.
Dengan kondisi fiskal yang sehat, APBN dapat menjalankan fungsi sebagai peredam gejolak atau shock absorber ketika terjadi tekanan dari luar negeri, termasuk potensi gangguan rantai pasok maupun fluktuasi harga energi global.
Strategi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia mampu mempertahankan stabilitas makroekonomi di tengah berbagai risiko yang masih membayangi ekonomi dunia.
Ketahanan Energi Indonesia Dinilai Lebih Kuat
Selain kekuatan fiskal, Indonesia juga dinilai memiliki posisi yang relatif aman dalam menghadapi risiko krisis energi global.
Berdasarkan hasil analisis yang dipaparkan Purbaya, Indonesia masuk dalam kelompok negara dengan tingkat eksposur risiko yang rendah namun memiliki kapasitas penyangga yang kuat.
Skor ketahanan energi Indonesia bahkan mencapai 77 persen. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan Tiongkok yang berada di level 76 persen dan hanya terpaut tipis dari Afrika Selatan yang mencatatkan skor 79 persen.
Kondisi ini memberikan keuntungan strategis bagi Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi apabila terjadi gangguan pasokan energi internasional maupun lonjakan harga komoditas global.
Mesin Pertumbuhan Baru Mulai Bergerak
Purbaya menjelaskan bahwa sejumlah indikator ekonomi menunjukkan aktivitas usaha dan konsumsi domestik terus berkembang.
Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur tercatat berada di level 50,0 yang menandakan sektor industri masih berada pada fase ekspansi.
Sementara itu, pertumbuhan likuiditas perekonomian mencapai 14,8 persen secara tahunan. Pada saat yang sama, penyaluran kredit perbankan tumbuh 11,5 persen, mencerminkan meningkatnya aktivitas investasi dan konsumsi masyarakat.
Dari sisi eksternal, Indonesia juga masih menikmati kinerja perdagangan yang kuat. Surplus neraca perdagangan berhasil dipertahankan selama 72 bulan berturut-turut, sebuah capaian yang menunjukkan daya saing ekspor nasional tetap terjaga.
Cadangan devisa Indonesia juga berada pada posisi yang kuat, yakni sebesar 144,9 miliar dolar AS atau setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Kondisi tersebut memberikan bantalan yang cukup bagi perekonomian nasional dalam menghadapi potensi tekanan eksternal.
Dampak Langsung ke Lapangan Kerja dan Kemiskinan
Tidak hanya berbicara soal indikator makro, Purbaya menegaskan bahwa keberhasilan ekonomi Indonesia mulai tercermin dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, sekitar 1,9 juta lapangan pekerjaan baru berhasil tercipta, yang kemudian berkontribusi terhadap penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka menjadi 4,68 persen pada 2026.
Di sisi lain, program perlindungan sosial yang dijalankan pemerintah juga menunjukkan hasil positif. Tingkat kemiskinan nasional terus menurun dari 8,57 persen pada September 2024 menjadi 8,25 persen pada September 2025.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang terjadi tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi mulai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Delapan Prioritas Nasional Jadi Mesin Pertumbuhan Berikutnya
Untuk menjaga momentum pembangunan, pemerintah saat ini menjalankan delapan klaster program prioritas nasional yang difokuskan pada penguatan fondasi ekonomi jangka panjang.
“Prioritas tersebut mencakup fondasi ketahanan nasional: kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur, perumahan, dan ketangguhan bencana,” jelas Menkeu.
Selain itu, pemerintah juga mempercepat hilirisasi industri dan transformasi struktural ekonomi guna meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Penguatan ekonomi desa, pemberdayaan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, hingga integrasi program bantuan sosial menjadi bagian dari strategi besar pembangunan yang sedang dijalankan.
Menurut Purbaya, seluruh program tersebut akan didukung oleh reformasi tata kelola pemerintahan, percepatan digitalisasi, penguatan sektor pertahanan dan keamanan, serta diplomasi ekonomi yang lebih aktif.
Ia menegaskan bahwa arah pembangunan Indonesia tidak semata mengejar pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak hanya tangguh di tingkat makro, melainkan juga secara nyata bertransformasi menjadi ketersediaan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat yang lebih luas dan merata,” tutupnya.