WASHINGTON, AS – Jurnalis sekaligus komentator politik Amerika Serikat, Tucker Carlson, memicu perdebatan baru di panggung geopolitik setelah mengklaim bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mengambil langkah strategis untuk melemahkan posisi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu demi membuka jalan kesepakatan dengan Iran.
- Klaim: Trump Tak Libatkan Israel dalam Negosiasi Iran
- Israel Disebut Tak Lagi Jadi Pusat Konsultasi
- Respons Trump: Kritik Tajam ke Carlson dan Komentator Politik
- Ketegangan Sikap Trump terhadap Netanyahu dan Operasi Militer
- AS Sebut Israel Mitra Kecil dalam Dinamika Baru
- Analisis: Arah Baru Politik Luar Negeri AS?
Pernyataan itu disampaikan Carlson dalam podcast pribadinya yang tayang di platform YouTube pada Rabu (17/6/2026), di tengah meningkatnya tensi diplomatik Amerika Serikat di Timur Tengah, khususnya terkait Iran dan Israel.
Klaim: Trump Tak Libatkan Israel dalam Negosiasi Iran
Dalam pandangannya, Carlson menyebut pendekatan Trump terhadap Iran dilakukan tanpa konsultasi mendalam dengan Israel, bahkan cenderung menempatkan sekutu dekat AS itu di luar proses pembahasan utama.
Ia menegaskan bahwa potensi kesepakatan damai dengan Iran bukan hanya menghadapi tantangan dari dalam negeri AS, melainkan juga dari sekutu strategisnya sendiri.
“Trump tahu bahwa ia harus melemahkan Benjamin Netanyahu dan bukan hanya Netanyahu tetapi juga legitimasi moral negara Israel di Amerika Serikat agar tetap berjalan. Dan sungguh menakjubkan, ia telah melakukannya,” ujar Carlson dalam pernyataannya.
Ia juga menambahkan bahwa Trump memiliki karakter politik yang mampu mengecewakan berbagai pihak, termasuk tokoh yang sebelumnya dianggap dekat dengannya.
“Sepertinya sekarang giliran Benjamin Netanyahu yang akan kecewa,” kata Carlson.
Israel Disebut Tak Lagi Jadi Pusat Konsultasi
Lebih jauh, Carlson menilai pendekatan Washington kini berubah drastis. Ia mengklaim bahwa Israel tidak lagi menjadi pihak yang diajak berkonsultasi penuh dalam perundingan sensitif dengan Iran.
Menurutnya, alih-alih melibatkan Israel secara langsung, Gedung Putih justru hanya mengirimkan dokumen perjanjian sebagai bentuk pemberitahuan.
Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai sinyal politik yang tegas dari Washington, bahwa keputusan strategis kini berada di tangan Amerika Serikat sendiri. “orang dewasa sedang berbicara,” ujar Carlson, menggambarkan sikap pemerintahan Trump dalam konteks diplomasi tersebut.
Respons Trump: Kritik Tajam ke Carlson dan Komentator Politik
Di sisi lain, Donald Trump sebelumnya juga melontarkan kritik keras terhadap sejumlah komentator politik, termasuk Carlson.
Trump menyebut Carlson sebagai sosok yang tidak memahami dinamika politik secara mendalam.
Ia bahkan melabeli Carlson dengan istilah yang sangat tajam, yakni “orang ber-IQ rendah” dan “orang bodoh.” Tidak berhenti di situ, Trump juga menyarankan agar Carlson serta komentator lain seperti Megyn Kelly “seharusnya menemui psikiater yang baik.”
Ketegangan Sikap Trump terhadap Netanyahu dan Operasi Militer
Dalam perkembangan lain, Trump juga mengomentari kebijakan militer Israel di Lebanon, yang disebutnya terlalu agresif dalam beberapa operasi.
Meski tetap menggambarkan Netanyahu sebagai sosok yang positif, Trump menilai ada pendekatan militer yang berlebihan.
“orang yang sangat baik” dan kadang-kadang “sedikit bersemangat,” ujar Trump menggambarkan Netanyahu.
Ia bahkan mengaku pernah memberikan saran langsung kepada pemimpin Israel tersebut. “Saya katakan Anda bisa sedikit lebih lembut, Bibi,” ucap Trump.
Trump juga menyoroti pendekatan militer Israel dengan mengatakan tidak semua situasi perlu respons berlebihan. Ia menyinggung operasi terhadap kelompok bersenjata seperti Hezbollah dengan mengatakan Israel tidak perlu “merobohkan satu bangunan setiap kali seseorang dari Hizbullah masuk ke dalamnya.”
AS Sebut Israel Mitra Kecil dalam Dinamika Baru
Pernyataan Trump yang paling menonjol adalah ketika ia menggambarkan hubungan bilateral dengan Israel dalam konteks yang tidak biasa bagi diplomasi kedua negara.
Ia menyebut Amerika Serikat sebagai “mitra besar,” sementara Israel disebut sebagai “mitra yang sangat kecil,” sebuah pernyataan yang dinilai mencerminkan perubahan nada dalam relasi strategis kedua negara.
Analisis: Arah Baru Politik Luar Negeri AS?
Pernyataan Carlson dan respons Trump ini memperlihatkan dinamika yang semakin kompleks dalam hubungan Washington–Tel Aviv, terutama di tengah upaya membuka kembali jalur diplomasi dengan Iran.
Jika klaim Carlson benar, maka pendekatan ini dapat menjadi salah satu pergeseran kebijakan luar negeri paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya terkait peran Israel dalam keputusan strategis AS di Timur Tengah.
Namun, pernyataan-pernyataan tersebut juga memicu kontroversi baru, mengingat gaya komunikasi Trump yang kerap konfrontatif terhadap pengkritiknya, sekaligus tetap menjaga hubungan pragmatis dengan sekutu tradisional seperti Israel.
Dengan situasi yang masih berkembang, hubungan antara AS, Israel, dan Iran diperkirakan akan tetap menjadi salah satu episentrum utama geopolitik global dalam waktu dekat.