Badai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) raksasa kembali mengancam sektor industri manufaktur tanah air. Penasihat Khusus Presiden bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengungkapkan temuan mengejutkan terkait nasib tragis 2.500 buruh pabrik bubur kertas PT Pakerin di Mojokerto, Jawa Timur, yang kini berada di ambang pemecatan massal.
Kondisi pabrik saat ini dilaporkan sudah mati suri dengan 80% pekerja telah dirumahkan. Mirisnya, biang kerok dari ancaman PHK ini bukan karena sepi orderan, melainkan karena modal kerja perusahaan mendadak “membeku”.
Kronologi Skandal: Modal Rp1 Triliun Nyangkut di Bank Bangkrut
Berdasarkan hasil investigasi dan peninjauan langsung Said Iqbal di lapangan, PT Pakerin menderita krisis likuiditas akut setelah bank tempat mereka menyimpan modal kerja ditutup paksa oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Modal kerja operasional PT Pakerin sebesar Rp800 miliar hingga Rp1 triliun tersangkut di Bank Prima yang kini berstatus dilikuidasi. Akibat modal kerja tersandera, manajemen tidak mampu membeli bahan baku dan membayar upah, sehingga pabrik terpaksa berhenti beroperasi.
Para buruh sebenarnya sudah sepakat dan legawa jika harus di-PHK, asalkan hak pesangon mereka dipenuhi sebesar 1,75 kali dari aturan berlaku. Namun, jangankan membayar pesangon, memutar roda pabrik saja perusahaan sudah tidak memegang uang tunai.
Satu-satunya harapan saat ini berada di tangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Said Iqbal menegaskan pihaknya akan langsung melapor ke Presiden RI serta menyurati pimpinan DPR RI agar segera memanggil LPS demi mempercepat pencairan dana darurat tersebut.
Efek Perang Dunia: 4.000 Buruh Pabrik Sepatu Nike Turut Dirumahkan
Tidak hanya di Jawa Timur, awan hitam ketenagakerjaan juga bergeser ke Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pabrik sepatu raksasa PT Feng Tai dilaporkan telah merumahkan sedikitnya 4.000 karyawannya.
Said Iqbal membeberkan dua faktor utama yang memicu lumpuhnya produksi sepatu merek dunia, Nike, di pabrik tersebut. Produksi gelombang pertama untuk merk Nike telah selesai, sementara kontrak pesanan untuk kuartal berikutnya belum menemui kepastian.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat pasokan bahan baku dari Nike global terhambat serius. Guna menyiasati rantai pasok yang terputus akibat perang, Nike mengalihkan suplai ke vendor lain, yang justru memicu keterlambatan fatal masuknya bahan baku ke Indonesia.
KSPI bersama pemerintah pusat kini tengah mengupayakan jalur diplomasi dan komunikasi langsung dengan perwakilan prinsipal aparel Nike agar aliran kontrak pesanan ke PT Feng Tai bisa segera disambung kembali demi menyelamatkan nasib ribuan kepala keluarga.