JAKARTA โ Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) meluncurkan rudal ke arah dua kapal dagang di sekitar Selat Hormuz pada Selasa dini hari.
Serangan terbaru itu terjadi ketika upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung untuk mencari jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung beberapa waktu.
Seorang pejabat senior Amerika Serikat menyebut serangan tersebut sebagai eskalasi serius yang berpotensi menghambat proses negosiasi damai yang tengah berjalan.
Situasi semakin sensitif karena masyarakat Iran masih berada dalam suasana berkabung setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pada fase awal perang Iran melawan Amerika Serikat.
Di tengah kondisi tersebut, IRGC justru meningkatkan tekanan terhadap lalu lintas pelayaran internasional yang melintasi Selat Hormuz.
Pasukan elite Iran itu sebelumnya memperingatkan kapal-kapal komersial agar tidak menggunakan jalur pelayaran yang diamankan militer Amerika Serikat di dekat pesisir Oman.
Ancaman itu disampaikan melalui komunikasi radio maritim beberapa hari sebelum serangan terjadi.
โRudal dan drone kami siap ditembakkan kepada kalian,โ seperti dikutip WSJ, Selasa.
Pernyataan tersebut terekam dalam komunikasi radio maritim yang kemudian beredar di kalangan pelaku industri pelayaran internasional.
Serangan rudal terhadap kapal sipil di tengah proses diplomasi memperlihatkan besarnya pengaruh IRGC dalam menentukan arah kebijakan keamanan Iran.
Kelompok tersebut selama ini dikenal memiliki pandangan yang lebih keras dibandingkan sebagian pejabat pemerintahan Iran yang mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran diketahui telah menyepakati masa negosiasi selama 60 hari untuk merumuskan kesepakatan permanen terkait penghentian konflik.
Salah satu kapal yang menjadi sasaran diduga adalah Al Rekayyat, kapal tanker pengangkut gas alam cair milik Nakilat yang menjadi bagian penting industri LNG Qatar.
Hingga laporan ini disusun, pihak Nakilat belum memberikan tanggapan resmi mengenai insiden tersebut.
Laporan dari awak kapal menyebut rudal menghantam sisi kiri kapal tepat di bagian atas ruang mesin.
Benturan tersebut memicu kebakaran yang disertai kepulan asap tebal di dalam ruang mesin kapal.
Seluruh awak kapal dilaporkan berhasil berkumpul di sisi kanan kapal sesuai prosedur keselamatan.
Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam insiden tersebut.
Saat diserang, kapal berada di mulut Selat Hormuz yang mengarah ke Teluk Oman.
Data pelacakan kapal menunjukkan kapal tersebut sudah tidak lagi memancarkan sinyal GPS sejak 18 Juni.
Otoritas UK Maritime Trade Operations (UKMTO) menerima laporan mengenai sebuah kapal tanker yang terkena proyektil tak dikenal sekitar delapan mil laut di timur Limah, Oman.
Insiden tersebut menyebabkan kebakaran ketika kapal sedang bergerak menuju arah selatan.
Meski demikian, tidak ditemukan korban maupun pencemaran lingkungan akibat serangan tersebut.
Perusahaan keamanan maritim Vanguard Tech kemudian memastikan api di atas kapal berhasil dipadamkan sehingga situasi dapat dikendalikan.
Media pemerintah Iran, IRIB, mengklaim kapal tersebut menjadi target karena tetap melintasi jalur yang didukung Amerika Serikat meski telah berulang kali diperingatkan Iran.
Peristiwa itu kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran internasional yang menjadi salah satu nadi perdagangan energi dunia.
Selat Hormuz sendiri mulai menunjukkan pemulihan aktivitas setelah beberapa pekan terakhir dilanda ketegangan.
Dalam beberapa hari terakhir, tercatat sekitar 30 hingga 60 kapal melintasi jalur strategis tersebut setiap hari.
Meski sebelumnya dua kapal, termasuk kapal kargo dan tanker minyak, juga menjadi sasaran serangan, perusahaan pelayaran internasional masih terus mengoperasikan armadanya melewati Selat Hormuz.
Analis menilai serangan terbaru berpotensi memperbesar risiko terhadap stabilitas kawasan sekaligus meningkatkan ketidakpastian pasokan energi global apabila eskalasi terus berlanjut.***