CILACAP – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengoperasikan Radar Cuaca S-Band pertama di Indonesia di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Fasilitas baru ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat sistem pemantauan cuaca nasional sekaligus meningkatkan kemampuan mitigasi bencana hidrometeorologi.
Radar tersebut diresmikan langsung oleh Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di Desa Tritih Lor, Kecamatan Jeruklegi, Rabu (8/7/2026).
Keberadaan radar ini menjadi bagian dari target pengembangan jaringan 75 radar cuaca yang disiapkan BMKG di berbagai wilayah Indonesia.
“Saat ini BMKG telah memiliki 45 radar cuaca yang tersebar di berbagai daerah. Ini merupakan kerja keras kita semua untuk dapat memenuhi jangkauan radar cuaca di Indonesia,” katanya.
Cilacap dipilih karena berada di pesisir selatan Pulau Jawa yang langsung menghadap Samudra Hindia dan memiliki tingkat kerawanan cuaca ekstrem yang tinggi.
Lokasi strategis tersebut memungkinkan pemantauan hujan, distribusi curah hujan, hingga potensi bencana hidrometeorologi dilakukan lebih akurat.
Data radar juga mendukung keselamatan penerbangan, pelayaran, transportasi darat, serta kebutuhan informasi bagi sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air.
Selain itu, informasi cuaca dari radar dimanfaatkan untuk mendukung sektor energi, pembangunan daerah, hingga pengambilan kebijakan pemerintah.
BMKG saat ini mengoperasikan sekitar 10.800 peralatan utama meteorologi, klimatologi, geofisika, dan maritim di seluruh Indonesia.
Radar Cuaca S-Band juga tengah dibangun di Natuna, Tanjung Pinang, dan Saumlaki, sedangkan Tangerang memperoleh pembangunan radar tipe C-Band.
“Radar di Cilacap merupakan aset strategis yang dibangun dengan standar operasional ketat, termasuk melalui proses factory assessment di Jerman, dan diproyeksikan dapat beroperasi hingga lebih dari 15 tahun dengan perawatan yang baik,” kata Faisal.
Sekretaris Utama BMKG Guswanto menjelaskan Indonesia kini memiliki tiga jenis radar cuaca, yakni X-Band, C-Band, dan S-Band.
Radar S-Band menjadi teknologi dengan cakupan paling luas karena mampu memantau wilayah hingga radius 400 kilometer.
Kemampuan tersebut melampaui radar C-Band yang menjangkau sekitar 200 kilometer dan X-Band sekitar 150 kilometer.
Radar S-Band juga menghasilkan data beresolusi tinggi sehingga informasi cuaca dapat disajikan hingga tingkat kelurahan.
Sistem tersebut terhubung dengan jaringan radar BMKG di seluruh Indonesia untuk memperkuat pengamatan cuaca nasional.
“Frekuensi operasionalnya juga dapat disinkronkan dengan radar milik TNI Angkatan Udara,” kata Guswanto.
Pelaksana Tugas Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma Surya menyambut positif kehadiran radar tersebut.
Menurutnya, teknologi baru itu akan memperkuat sistem peringatan dini bencana sekaligus meningkatkan keselamatan transportasi udara dan laut.
Ia berharap keberadaan radar menjadi salah satu pertimbangan pemerintah pusat membuka kembali layanan penerbangan menuju Cilacap.
Pengembangan Pelabuhan Tanjung Intan sebagai pelabuhan internasional terbuka juga diharapkan memperoleh dukungan lebih besar.
Pembangunan Radar Cuaca S-Band Cilacap merupakan bagian dari proyek Development of Maritime Observation Infrastructure and Forecasting Technology for Maritime Meteorological System-2 atau MMS-2.
Program tersebut dirancang untuk memperkuat sistem observasi meteorologi maritim nasional melalui teknologi pemantauan cuaca modern.
Radar ditempatkan di Cilacap guna meningkatkan pengawasan cuaca di pesisir selatan Jawa dan kawasan Samudra Hindia.
Kehadiran fasilitas ini juga mempercepat penyampaian peringatan dini cuaca ekstrem kepada masyarakat dan sektor strategis.
Empat radar lainnya masih dalam tahap penyelesaian di Natuna, Tanjung Pinang, Saumlaki, dan Tangerang untuk memperluas cakupan pemantauan cuaca nasional.
Kata Kunci: BMKG, Radar Cuaca S-Band, Radar Cuaca Cilacap, cuaca ekstrem, mitigasi bencana, Samudra Hindia, hidrometeorologi, radar cuaca Indonesia.***