JAKARTA – Harga minyak dunia kembali menguat setelah konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran pasar energi global.
Pelaku pasar menilai eskalasi militer berpotensi mengganggu distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat melancarkan serangan ke sejumlah lokasi di pesisir Iran pada Selasa waktu setempat.
Washington juga menghentikan izin sementara yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak secara legal.
Mengutip laporan WSJ, Rabu (8/7/2026) langkah itu diambil setelah Iran dituding menyerang kapal di sekitar Selat Hormuz.
Selat Hormuz menjadi jalur vital yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan drone dan rudal balistik ke Bahrain serta Kuwait.
Kedua negara tersebut diketahui menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.
Serangan balasan itu memperburuk situasi keamanan di kawasan Teluk.
Ketegangan terbaru menjadi eskalasi terbesar sejak nota kesepahaman kedua negara pada 17 Juni.
Kesepakatan tersebut sebelumnya bertujuan membuka kembali Selat Hormuz dan meredakan konflik.
Departemen Keuangan AS memastikan lisensi penjualan minyak Iran kini resmi dicabut.
Keputusan itu diambil setelah serangan terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz kembali terjadi.
Ekonom Commonwealth Bank of Australia, John Oh, menilai risiko gangguan pasokan kini meningkat.
“Serangan terhadap kapal menunjukkan besarnya risiko terhadap pemulihan arus pasokan minyak.”
Ia juga menyoroti laporan serangan terhadap kapal LNG Qatar di perairan Oman.
Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran atas keamanan jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz.
Meningkatnya ancaman terhadap jalur energi mendorong investor memburu aset komoditas.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate naik sekitar 3,3 persen menjadi US$72,75 per barel.
Minyak mentah Brent juga melonjak 3,3 persen ke level US$76,58 per barel.
Kenaikan harga mencerminkan meningkatnya premi risiko akibat konflik geopolitik.
Pasar saham Asia-Pasifik bergerak bervariasi setelah pelemahan bursa Wall Street.
Indeks Hang Seng Hong Kong menguat sekitar 3,1 persen.
Indeks Shanghai Composite bergerak relatif datar.
Nikkei Jepang justru melemah sekitar 1,6 persen.
Indeks Taiex Taiwan naik sekitar 0,6 persen.
Kospi Korea Selatan sempat berfluktuasi sebelum akhirnya turun sekitar 5,5 persen.
Bursa Korea bahkan sempat mengaktifkan mekanisme pembatasan perdagangan.
Saham sektor pertahanan dan semikonduktor memimpin tekanan di pasar Korea Selatan.
National Australia Bank menilai investor mulai mengurangi kepemilikan saham produsen chip.
Aksi ambil untung dilakukan setelah sektor semikonduktor mencatat kinerja kuat pada kuartal sebelumnya.
Perhatian investor kini beralih ke perkembangan konflik Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasar energi global.***