JAKARTA – Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke Iran untuk hari kedua, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah “berakhir”.
Serangan menargetkan tiga lokasi di Iran, termasuk Bandar Abbas, Sirik, dan Bushehr, beberapa jam setelah tiga kapal tanker diserang di Selat Hormuz.
Trump menulis di Truth Social: “Ini sebagai pembalasan atas pemboman kapal kemarin oleh Iran. Jika terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!” Komando Pusat AS mengonfirmasi serangan tersebut, menyebut langkah itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Ketegangan meningkat setelah Iran menyerang situs militer AS di Bahrain dan Kuwait. Sirene peringatan berbunyi di markas Armada ke-5 Angkatan Laut AS di Bahrain, sementara militer Kuwait mengklaim berhasil mencegat drone dan rudal. Televisi pemerintah Iran juga melaporkan ledakan di Pulau Abu Musa, meski pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr disebut tidak mengalami kerusakan.
Eskalasi ini mengguncang pasar global. Saham AS jatuh, sementara harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 5 persen mendekati 80 dolar per barel. Senator Bernie Sanders mengkritik langkah Trump: “Memulai kembali perang gegabah dengan Iran tidak akan membuat Amerika lebih kuat. Itu akan menelan lebih banyak nyawa dan membuang lebih banyak uang pembayar pajak.”
Serangan terbaru terjadi di tengah persiapan pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Mashhad. Khamenei tewas pada hari pertama serangan AS-Israel yang memicu perang, dan jutaan pelayat hadir dalam prosesi pemakaman yang berlangsung beberapa hari.