JAKARTA – Penyakit autoimun menjadi salah satu masalah kesehatan yang semakin mendapat perhatian di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari virus, bakteri, dan zat asing justru menyerang sel-sel sehat.
Akibatnya, berbagai organ tubuh dapat mengalami peradangan hingga kerusakan. Jika tidak ditangani dengan baik, penyakit autoimun dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit autoimun dibandingkan laki-laki. Bahkan, sekitar 80 persen penderita autoimun di kawasan Asia Tenggara merupakan wanita. Fakta ini mendorong para peneliti untuk terus mengungkap penyebab di balik tingginya angka tersebut.
Menurut Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof. Ronny Rachman Noor, penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun gagal membedakan sel tubuh yang sehat dengan zat asing yang berbahaya. Akibatnya, tubuh membentuk autoantibodi yang justru menyerang jaringan dan organ miliknya sendiri.
Serangan tersebut dapat menyebabkan peradangan kronis pada berbagai bagian tubuh. Organ yang dapat terdampak antara lain kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga sistem saraf.
Salah satu faktor utama yang membuat wanita lebih rentan mengalami autoimun adalah pengaruh hormon. Hormon estrogen dan progesteron diketahui berperan penting dalam mengatur sistem kekebalan tubuh.
Pada perempuan, kedua hormon tersebut membuat respons imun cenderung lebih aktif dibandingkan laki-laki. Respons imun yang kuat memang membantu tubuh melawan infeksi, tetapi di sisi lain juga meningkatkan risiko sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri.
Selain faktor hormonal, aspek genetik juga memiliki pengaruh besar. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit autoimun memiliki peluang lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Meski demikian, para ahli menjelaskan bahwa yang diwariskan bukan penyakitnya secara langsung. Yang diturunkan adalah kecenderungan genetik yang dapat berkembang menjadi autoimun jika dipicu oleh faktor tertentu.
Faktor lingkungan juga berperan dalam memicu munculnya penyakit autoimun. Paparan infeksi virus atau bakteri tertentu, stres berkepanjangan, polusi udara, kebiasaan merokok, hingga sinar ultraviolet dapat meningkatkan risiko pada orang yang memiliki kerentanan genetik.
Pada penderita lupus, misalnya, paparan sinar matahari berlebihan maupun tekanan psikologis sering menjadi pemicu kambuhnya gejala. Kondisi ini dikenal sebagai flare atau kekambuhan penyakit.
Hingga kini, dunia medis telah mengenali lebih dari 100 jenis penyakit autoimun. Beberapa yang paling sering ditemukan antara lain lupus, rheumatoid arthritis, psoriasis, vitiligo, penyakit Hashimoto, Graves, diabetes tipe 1, multiple sclerosis, myasthenia gravis, penyakit Crohn, dan celiac.
Setiap jenis autoimun memiliki gejala yang berbeda. Tingkat keparahan penyakit juga dapat bervariasi sehingga penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Gejala autoimun sering kali sulit dikenali karena menyerupai penyakit lain. Keluhan yang umum dialami antara lain mudah lelah, nyeri sendi, nyeri otot, demam ringan berulang, ruam kulit, rambut rontok, hingga gangguan pencernaan.
Sebagian penderita juga mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, sariawan berulang, atau pembengkakan pada beberapa bagian tubuh. Gejala dapat muncul dan menghilang sehingga diagnosis sering membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Karena gejalanya beragam, masyarakat dianjurkan tidak mengabaikan keluhan yang berlangsung dalam waktu lama. Pemeriksaan ke dokter sejak dini dapat membantu memastikan penyebabnya sekaligus mencegah kerusakan organ yang lebih serius.
Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan fisik, menelusuri riwayat kesehatan pasien, dan melakukan tes laboratorium untuk menegakkan diagnosis. Penanganan yang cepat dapat membantu mengendalikan perkembangan penyakit.
Hingga saat ini penyakit autoimun belum dapat disembuhkan sepenuhnya. Namun, pengobatan yang tepat mampu mengurangi peradangan, mengendalikan gejala, dan mencegah komplikasi.
Terapi dapat berupa obat antiinflamasi, kortikosteroid, obat penekan sistem imun, maupun terapi lain sesuai jenis autoimun yang dialami pasien. Pengobatan harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.
Selain menjalani terapi medis, penderita juga dianjurkan menerapkan pola hidup sehat. Mengonsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga, tidur yang cukup, menghindari rokok, dan mengelola stres menjadi langkah penting dalam menjaga kondisi tubuh.
Meski wanita memiliki risiko lebih tinggi mengalami autoimun, penyakit ini tetap dapat dikendalikan apabila terdeteksi sejak dini. Edukasi mengenai faktor risiko, gejala awal, dan pentingnya pemeriksaan kesehatan menjadi kunci agar penderita dapat menjalani hidup yang lebih sehat dan produktif. (ACH)