JAKARTA – Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi tonggak baru bagi FIFA setelah menghasilkan pendapatan komersial jauh melampaui perkiraan awal.
Turnamen yang ditutup dengan kemenangan Spanyol atas Argentina di New Jersey membuktikan strategi FIFA menjadikan edisi 2026 sebagai ajang dengan nilai bisnis terbesar berhasil diwujudkan.
Selain memperluas pengaruh di pasar Amerika Serikat, FIFA memanfaatkan karakter pasar yang memiliki daya beli tinggi serta lebih terbuka terhadap komersialisasi industri olahraga.
Mengutip laporan HITC, Rabu, model bisnis yang diterapkan mencakup platform resmi penjualan kembali tiket, sehingga transaksi tiket sekunder tetap memberikan komisi sekitar 30 persen kepada FIFA.
Organisasi sepak bola dunia itu juga mengoptimalkan penjualan paket hospitality premium di area tepi lapangan dengan nilai mencapai jutaan dolar AS bagi kalangan korporasi.
Suasana pesta sepak bola bahkan dimanfaatkan berbagai industri olahraga Amerika Serikat, termasuk MLB, untuk menarik perhatian jutaan suporter yang hadir selama turnamen.
Di sisi lain, pendekatan bisnis tersebut menuai kritik karena dinilai semakin menjauhkan penggemar dari pengalaman sepak bola yang lebih terjangkau dan berorientasi pada suporter.
Bagi Presiden FIFA Gianni Infantino, kebijakan tersebut justru menjadi fondasi keberhasilan finansial yang memperkuat posisinya sebagai pemimpin badan sepak bola dunia.
Keberhasilan Piala Dunia 2026 juga mendorong FIFA menaikkan proyeksi pendapatan siklus empat tahunan menjadi sekitar 15 miliar dolar AS.
Nilai itu meningkat sekitar 2 miliar dolar AS dibandingkan target awal yang sebelumnya telah disusun sebelum turnamen berlangsung.
Karena kontrak hak siar dan sponsor telah ditetapkan lebih dahulu, kenaikan tersebut diperkirakan terutama berasal dari penjualan tiket dan layanan hospitality.
Pada awal perencanaan, FIFA memperkirakan pemasukan dari tiket dan hospitality sedikit di atas 3 miliar dolar AS atau hampir tiga kali lipat dibandingkan Piala Dunia Qatar.
Hingga kini FIFA belum mengungkapkan angka final pendapatan dari sektor tiket meski hasil keseluruhan disebut melampaui ekspektasi organisasi.
Namun, laporan proyeksi untuk siklus 2027–2030 mengungkap tantangan baru bagi penyelenggaraan Piala Dunia berikutnya.
Dokumen tersebut memperkirakan pendapatan tiket pada Piala Dunia 2030 akan menyusut sekitar 938 juta dolar AS dibandingkan capaian edisi 2026.
Proyeksi tersebut disusun sebelum FIFA mencatat lonjakan pemasukan dari sektor tiket selama penyelenggaraan Piala Dunia musim panas ini.
Penurunan itu memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan strategi komersial yang diterapkan FIFA dalam jangka panjang.
Belum diketahui apakah FIFA akan mempertahankan sistem harga dinamis maupun platform resmi penjualan kembali tiket pada Piala Dunia 2030.
Turnamen edisi 2030 dijadwalkan berlangsung di Spanyol, Portugal, dan Maroko dengan dukungan pertandingan pembuka di Uruguay, Argentina, dan Paraguay.
Meski menghadapi proyeksi penurunan pendapatan tiket, arah kebijakan FIFA diperkirakan tetap agresif di bawah kepemimpinan Gianni Infantino.
Rencana memperluas jumlah peserta menjadi 64 tim menunjukkan FIFA masih mengedepankan ekspansi sebagai strategi utama meningkatkan nilai ekonomi Piala Dunia.***