JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tren pelemahan hingga menjelang penutupan perdagangan pada Jumat (24/7/2026).
Pada pukul 14.20 WIB, IHSG tercatat berada di level 6.208,16 setelah kehilangan 107,15 poin atau 1,70 persen dibanding perdagangan sebelumnya.
Indeks saham unggulan LQ45 juga ikut tertekan ke level 616,32 atau melemah 10,80 poin setara 1,72 persen.
Sejak sesi pembukaan hari ini, tekanan jual sudah terlihat dengan IHSG dibuka di level 6.266,97 turun 79,50 poin, atau setara dengan 1,26 persen.
Pelemahan tersebut memperpanjang koreksi yang telah terjadi sehari sebelumnya ketika IHSG ditutup turun 19,16 poin ke posisi 6.315.
Kondisi itu memperlihatkan tekanan pasar yang masih kuat sehingga peluang koreksi lanjutan pada perdagangan berikutnya tetap terbuka.
Analis menilai arah pergerakan IHSG saat ini masih sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi dan geopolitik global.
Perhatian investor tertuju pada kebijakan tarif impor baru Amerika Serikat terhadap sejumlah negara mitra dagang yang berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar.
Di sisi lain, meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah mendorong harga minyak mentah dunia melampaui 100 dolar AS per barel.
“Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa inflasi berpotensi kembali mengalami kenaikan dan berpengaruh terhadap keputusan The Fed berikutnya,” kata tim analis Pilarmas Investindo Sekuritas.
Kenaikan harga energi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa bank sentral Amerika Serikat akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama.
Dari dalam negeri, penerapan mandatori biodiesel B50 masih dipandang sebagai sentimen positif bagi emiten perkebunan kelapa sawit.
Program tersebut dinilai mampu menjaga permintaan sekaligus menopang harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).
Meski demikian, investor juga mempertimbangkan potensi bertambahnya kebutuhan insentif pemerintah guna menjaga keberlanjutan implementasi program B50.
Pilarmas Investindo memperkirakan ruang gerak IHSG masih berada pada kisaran support 6.110 dan resistance 6.380.
Sementara itu, lembaga pemeringkat global S&P memberikan penilaian terhadap 69 emiten sektor korporasi dan infrastruktur yang telah memperoleh peringkat publik.
Penilaian tersebut dikelompokkan ke dalam empat kategori berdasarkan tingkat risiko ketidaksesuaian mata uang, operasional, serta struktur neraca perusahaan.
“Sejumlah kecil emiten lebih sensitif terhadap depresiasi mata uang, karena ketidaksesuaian valuta asing operasional dan pembiayaan.”
“Secara historis, depresiasi yang tajam telah mengurangi kemauan emiten berperingkat spekulatif, untuk membayar kewajiban keuangan,” kata Tim Analis Phintraco.
Dari sisi teknikal, indikator Stochastic RSI menunjukkan pola death cross pada area overbought.
Sementara itu, histogram MACD masih bertahan di area positif meski mulai memperlihatkan penyempitan.
Analis juga menilai kenaikan harga minyak mentah masih menjadi faktor yang dapat menambah tekanan terhadap pergerakan IHSG.
“Diperkirakan jika IHSG breakdown dari level MA5 di sekitar 6.280, maka berpotensi uji level support berikutnya di 6.200–6.250,” kata tim analis Phintraco Sekuritas menutup analisisnya.***