JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat (24/7/2026) setelah ditutup melemah 0,30 persen ke posisi 6.315.
Aksi jual masih membayangi pasar saham sehingga pelaku pasar diminta mencermati peluang pengujian area support dalam waktu dekat.
“Secara teknikal, IHSG masih di area positif meski sedikit mengalami penyempitan. Sehingga IHSG berpotensi menguji level support berikutnya di 6.200-6.250,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Jumat, 24 Juli 2026.
Analis menilai pergerakan indeks masih memiliki fondasi teknikal positif meski ruang penguatannya mulai menyempit.
Kenaikan harga minyak mentah dunia diperkirakan menjadi sentimen yang dapat menekan pergerakan pasar saham domestik.
Selain itu, investor juga mencermati data jumlah uang beredar yang sebelumnya diumumkan Bank Indonesia sebagai indikator likuiditas.
Data menunjukkan uang beredar dalam arti luas atau M2 mencapai Rp10.432,8 triliun pada Juni 2026.
Nilai tersebut tumbuh 8,7 persen secara tahunan meski melambat dibandingkan pertumbuhan 10,8 persen pada Mei 2026.
“Ini menunjukkan likuiditas di Indonesia masih meningkat, tetapi peningkatannya tidak secepat bulan sebelumnya,” ucap Tim Phintraco.
Di sisi lain, penyaluran kredit justru menunjukkan penguatan dengan pertumbuhan mencapai 12,6 persen pada Juni 2026.
Perkembangan tersebut mencerminkan aktivitas pembiayaan masih tetap meningkat di tengah perlambatan ekspansi likuiditas.
Pelaku pasar juga mencermati laporan terbaru dari lembaga pemeringkat global S&P terhadap puluhan emiten Indonesia.
Sebanyak 69 emiten korporasi dan infrastruktur dipetakan berdasarkan risiko ketidaksesuaian mata uang, operasional, dan neraca.
Analisis itu menunjukkan sebagian kecil perusahaan memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap pelemahan nilai tukar.
“Sejumlah kecil emiten lebih sensitif terhadap depresiasi mata uang, karena ketidaksesuaian valuta asing operasional dan pembiayaan.”
“Secara historis, depresiasi yang tajam telah mengurangi kemauan emiten berperingkat spekulatif, untuk membayar kewajiban keuangan,” kata Tim Analis Phintraco menutup analisisnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang patut diperhitungkan investor dalam membaca prospek IHSG ke depan.***