JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menyoroti kisah Joko Purnomo, seorang petani asal Ngawi, Jawa Timur, dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR-DPD RI, Jumat (14/8/2026).
Joko merupakan Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Makmur, Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi. Selama sekitar 20 tahun menggeluti pertanian padi, ia mengalami langsung perubahan cara bertani dari yang sebelumnya banyak mengandalkan tenaga manual menjadi lebih modern dengan bantuan mesin dan teknologi.
Kisah Joko menjadi salah satu gambaran yang disampaikan pemerintah mengenai upaya meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Berawal dari Utang untuk Beli Mesin
Perjalanan Joko sebagai petani tidak selalu berjalan mudah. Ketika ingin meningkatkan kemampuan pengolahan lahannya, ia harus mencari cara untuk mendapatkan peralatan pertanian.
Salah satunya terjadi saat Joko ingin memiliki hand traktor. Ia mengaku harus membeli mesin tersebut secara utang dan bahkan menggadaikan BPKB kendaraan untuk membayarnya.
“Bagaimana waktu itu saya hand traktor ngutang dulu. Mesti gadaikan BPKB untuk bayar hand traktor walaupun itu bekas,” ujar Joko dalam wawancara dengan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.
Dari kondisi tersebut, Joko kemudian terus mengembangkan cara bertani dengan memanfaatkan teknologi. Menurutnya, penggunaan mesin membuat berbagai pekerjaan di sawah menjadi lebih cepat dan efisien.
Panen Satu Hektare Kini Cuma Dua Jam
Salah satu teknologi yang digunakan Joko adalah metode dapog untuk persemaian padi. Metode tersebut memungkinkan proses persemaian dilakukan di halaman atau pekarangan dengan menggunakan kotak pembibitan sehingga tidak membutuhkan lahan luas.
Ia juga memanfaatkan sumur submersible untuk mendukung kebutuhan air di lahan pertanian.
Untuk pengolahan tanah, Joko menggunakan rotavator berukuran besar. Sementara saat panen, ia memanfaatkan combine harvester.
Perubahan tersebut membuat waktu pengerjaan menjadi jauh lebih singkat. Joko mengatakan, jika sebelumnya panen satu hektare membutuhkan waktu hingga empat hari, kini pekerjaan tersebut bisa diselesaikan hanya dalam hitungan jam.
“Kalau dulu panen satu hektare bisa empat hari, sekarang tinggal dua jam selesai,” katanya.
Produktivitas Padi Capai 9 Ton per Hektare
Efisiensi penggunaan teknologi juga berdampak terhadap produktivitas pertanian Joko. Ia menyebut hasil panennya dapat mencapai sekitar 9 ton per hektare.
Dalam satu tahun, lahan tersebut bahkan dapat dipanen hingga tiga kali.
Joko juga merasakan manfaat dari dukungan pemerintah melalui pupuk bersubsidi. Menurutnya, perbedaan harga pupuk subsidi dan nonsubsidi cukup besar sehingga berpengaruh terhadap modal yang harus disiapkan petani.
Ia menyebut pupuk nonsubsidi dapat mencapai sekitar Rp400 ribu per kilogram, sementara pupuk subsidi berada di kisaran Rp90 ribu per kilogram.
“Betul-betul terasa sekali perbedaan pupuk subsidi dan non-subsidi,” ucap Joko.
Petani Disebut Makin Sejahtera
Manfaat perubahan tersebut juga dirasakan petani lain di Poktan Sri Makmur. Salah satunya Suwandi yang mengaku merasakan perbedaan kondisi pertanian dibandingkan masa lalu.
Menurut Suwandi, pekerjaan petani dahulu banyak dilakukan secara manual dan persoalan pupuk juga menjadi salah satu tantangan. Kini, keberadaan pupuk bersubsidi membuat biaya produksi lebih terbantu.
Ia mengatakan hasil pertanian yang diperoleh kini tidak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memungkinkan petani memiliki tabungan.
“Kalau zaman dulu, istilahnya petani itu untuk makan cukup berdua sudah bersyukur. Kalau sekarang itu hasilnya melimpah, bisa punya tabungan,” kata Suwandi.
Kisah Joko dan para petani di Ngawi tersebut menjadi gambaran bagaimana modernisasi pertanian, penggunaan teknologi, serta dukungan kebijakan dapat membantu meningkatkan produktivitas.
Bagi Joko, menjadi petani bukanlah pekerjaan yang perlu dipandang sebelah mata. Ia justru mengaku bangga dengan profesinya.
“Bangga menjadi petani, bukan lemah menjadi tani. Bangga menjadi petani,” pungkasnya.
Joko sendiri tercatat sebagai salah satu penerima manfaat program pupuk bersubsidi pemerintah. Kisahnya kemudian dibawa ke panggung nasional dan disebut Presiden Prabowo dalam pidato kenegaraan di hadapan anggota MPR, DPR, dan DPD RI pada Jumat (14/8/2026). (ACH)



