JAKARTA – Kelompok Houthi yang didukung Iran kembali meningkatkan serangan di pesisir Laut Merah Yaman.
Serangkaian serangan rudal dan drone membuat aktivitas Pelabuhan Mokha dihentikan sementara.
Pelabuhan tersebut menjadi jalur logistik penting bagi pelayaran sipil dan pasukan yang melawan Houthi.
Eskalasi ini juga mendekatkan konflik ke Selat Bab al-Mandeb yang menjadi jalur pelayaran global.
Selat Bab al-Mandeb menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia dan menjadi rute penting perdagangan dunia.
Pakar Yaman Adam Baron menilai peningkatan konflik tersebut merupakan eskalasi paling serius dalam beberapa tahun terakhir.
“Ini adalah eskalasi paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir, mungkin sejak 2020,” tuturnya seperti dilansir WSJ, Selasa (18/8/2026).
Menurut Baron, Mokha memiliki posisi penting karena menjadi pusat distribusi logistik bagi pasukan anti-Houthi.
Houthi menguasai wilayah pegunungan di pedalaman, tetapi tidak mengendalikan seluruh garis pantai di sekitar Bab al-Mandeb.
Penutupan Mokha berpotensi menyulitkan pasukan anti-Houthi memperoleh pasokan dan mempertahankan posisi mereka.
Direktur Pelabuhan Mokha Abdulmalik Al-Sharabi mengatakan serangan merusak fasilitas komersial dan pelayanan.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada bengkel, peralatan, serta bagian dermaga pelabuhan.
Serangan tersebut menewaskan 16 orang dan menyebabkan 22 lainnya mengalami luka-luka.
Sekitar 1.500 pekerja juga terpaksa berhenti bekerja setelah aktivitas pelabuhan dihentikan.
Ancaman terhadap pelayaran semakin serius setelah serangan Houthi menewaskan empat pekerja kapal kargo.
Insiden tersebut terjadi di kawasan Bab al-Mandeb yang menjadi jalur alternatif bagi pengiriman energi dari kawasan Teluk.
Gangguan terhadap rute tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap pasokan minyak dan gas dunia.
Situasi ini muncul setelah penutupan Selat Hormuz sebelumnya mengganggu distribusi energi dalam skala besar.
Yaman sendiri masih menghadapi perang berkepanjangan antara Houthi dan kelompok yang didukung pemerintah.
Wakil Menteri Pertahanan Yaman Samir al-Sabri mengatakan pasukannya terus memberikan perlawanan terhadap Houthi.
Ia menyebut banyak anggota Houthi tewas dalam pertempuran di wilayah Marib dan Taiz.
“Front-front baru akan terbuka di wilayah yang berada dalam lingkup pengaruh Houthi sendiri.”
Houthi merupakan salah satu kelompok bersenjata regional yang memperoleh persenjataan dan pelatihan dari Iran.
Meski memiliki hubungan erat dengan Teheran, Houthi dinilai memiliki tingkat kemandirian lebih besar dibanding sejumlah kelompok sekutu Iran lainnya.
Konflik kembali meningkat setelah gencatan senjata di Yaman runtuh pada Juli lalu.
Ketegangan bertambah setelah koalisi pimpinan Arab Saudi menyerang bandara internasional di ibu kota Yaman.
Serangan tersebut ditujukan untuk mencegah pesawat yang membawa delegasi Houthi dari Iran mendarat di Sana’a.
Perang saudara Yaman bermula ketika Houthi merebut ibu kota Sana’a pada 2014.
Setahun kemudian, kelompok tersebut bergerak menuju Aden sebelum dipukul mundur oleh pasukan yang didukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Koalisi negara-negara Arab kemudian melancarkan serangan udara, tetapi gagal sepenuhnya menggulingkan kekuatan Houthi.
Houthi hingga kini masih menguasai Sana’a serta wilayah luas yang membentang di sepanjang pesisir Laut Merah.
Bulan lalu, Houthi juga mengumumkan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Arab Saudi dan meningkatkan serangan terhadap kapal.
Kondisi tersebut menambah tekanan terhadap rantai pasok global yang sebelumnya sudah menghadapi berbagai gangguan geopolitik.
Meski risiko meningkat, aktivitas kapal di Bab al-Mandeb ternyata masih berlangsung menurut data perusahaan analitik energi Kpler.
Sepanjang 10 hingga 16 Agustus tercatat 254 pelayaran melewati Bab al-Mandeb.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan 238 pelayaran yang tercatat pada pekan sebelumnya.
Analis senior Kpler Naveen Das menyebut kondisi di Laut Merah tetap sangat rumit.
“Ini adalah situasi yang sangat kompleks.”
Menurut Das, pelayaran tetap berjalan meski ancaman keamanan meningkat di kawasan tersebut.
Data itu menunjukkan jalur Bab al-Mandeb masih memiliki ketahanan meski berada di tengah eskalasi konflik.
Namun, peningkatan serangan Houthi tetap menjadi perhatian karena kawasan tersebut merupakan salah satu simpul penting perdagangan internasional.
Jika gangguan meluas, dampaknya dapat merembet pada biaya pengiriman, rantai pasok, serta distribusi energi global.***




