JAKARTA — Data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan jumlah warga yang mengungsi akibat gempa NTT kembali meningkat setelah dilakukan validasi lapangan.
Pemutakhiran tersebut menambah 16.394 orang dibandingkan pencatatan sebelumnya di sejumlah wilayah terdampak.
Kini, total pengungsi gempa NTT yang tersebar di tujuh daerah mencapai 192.303 orang.
Kabupaten Nagekeo masih menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbesar, yakni sebanyak 52.284 orang.
Lonjakan mencolok juga terjadi di Kabupaten Ngada setelah BNPB melakukan pembaruan data berdasarkan kondisi terbaru di lapangan.
Jumlah pengungsi di Ngada sebelumnya tercatat 3.259 orang, tetapi kini meningkat menjadi 21.552 orang.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan perubahan tersebut berasal dari proses validasi dan pemutakhiran data lapangan.
“Kalau beberapa dua hari yang lalu kita mendapatkan pengurangan, tapi kali ini adalah tambahan. Dan ketambahannya sebesar 16.394 orang.”
“Sehingga, di Ngada yang tadinya 3.259 orang, sekarang menjadi 21.552 orang pengungsi,” kata Berton dalam konferensi pers daring, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Selain memperbarui jumlah pengungsi, BNPB juga mempertahankan catatan korban meninggal akibat gempa yang melanda NTT pada 15 Agustus 2026.
Hingga pembaruan terakhir, korban meninggal dunia tercatat 111 orang dengan Kabupaten Manggarai sebagai wilayah yang paling banyak kehilangan warga.
Manggarai mencatat 45 korban meninggal, disusul Manggarai Timur sebanyak 38 orang dan Nagekeo sebanyak 13 orang.
Data BNPB juga memperlihatkan perempuan menjadi kelompok yang paling banyak tercatat sebagai korban terdampak bencana.
Proporsi korban perempuan mencapai 56,4 persen, sedangkan laki-laki berada pada angka 43,6 persen.
Berdasarkan kelompok umur, warga lanjut usia mendominasi profil korban dengan persentase mencapai 45 persen.
Kelompok dewasa menyusul dengan proporsi 37 persen dari keseluruhan data korban yang tercatat BNPB.
Distribusi Bantuan
Di tengah proses pendataan, pemerintah dan berbagai pihak terus menggerakkan distribusi bantuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di lokasi terdampak.
Pada Sabtu, BNPB menerima tambahan bantuan logistik sebanyak 5 ton dan mengirimkan 22 ton bantuan ke sejumlah wilayah.
Secara kumulatif, pengiriman logistik selama periode 15 hingga 29 Agustus 2026 telah mencapai 1.916 ton.
“Secara kualitatif jumlah logistik yang terkirim itu ada sebesar 1.916 ton. Dalam periode tanggal 15 sampai 29 Agustus 2026,” ujar Berton.
Labuan Bajo menerima distribusi terbesar dengan sekitar 1.200 ton, sedangkan Maumere memperoleh sekitar 598 ton bantuan.
Distribusi lainnya mencakup Manggarai Barat 12 ton, Manggarai 25 ton, Manggarai Timur 30 ton, serta Ngada 8 ton.
Selanjutnya, Nagekeo menerima 16 ton, Ende 16 ton, dan Sikka memperoleh 10 ton logistik untuk mendukung kebutuhan warga terdampak.
BNPB menyatakan proses validasi data akan terus berjalan agar angka pengungsi dan korban dapat mencerminkan situasi terbaru di lapangan.
Pemutakhiran tersebut menjadi dasar penting untuk menentukan kebutuhan bantuan, pelayanan pengungsi, serta penanganan masyarakat terdampak gempa secara lebih tepat.***



