Nahkoda baru Bank Indonesia (BI) resmi berganti. Destry Damayanti mengumpan kepemimpinan sebagai Gubernur BI definitif menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri pada akhir Juli 2026.
Prosesi pelantikan dan pengucapan sumpah jabatan dipimpin langsung oleh Ketua Mahkamah Agung (MA), Sunarto, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, pada Rabu (2/9/2026) siang.
Selain Destry, dua pejabat strategis bank sentral turut diambil sumpahnya, yakni Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior BI dan Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur BI. Ketiga pucuk pimpinan tersebut akan mengemban amanah jabatannya hingga tahun 2031 mendatang.
“Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 92/P/2026 tanggal 1 September 2026, Saudari Destry Damayanti diangkat menjadi Gubernur BI, Saudari Aida S. Budiman sebagai Deputi Gubernur Senior BI, dan Saudara Solikin M. Juhro sebagai Deputi Gubernur BI,” tegas Sunarto saat membacakan petikan surat keputusan.
Janji Independensi di Era Prabowo Subianto
Usai pelantikan, publik menyoroti komitmen Destry dalam mengawal arah kebijakan moneter nasional di tengah dorongan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Saat menjalani proses uji kepatuhan dan kelayakan (fit and proper test) di hadapan DPR RI akhir Agustus lalu, Destry menegaskan bahwa sinergi bersama pemerintah tidak akan menggoyahkan benteng independensi bank sentral.
“Kata ‘sinergi’ ini sama sekali tidak mengurangi kredibilitas dan independensi Bank Indonesia dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya,” ujar Destry menekankan integritas BI.
Tantangan Rupiah dan Gejolak Eksternal
Salah satu agenda krusial di bawah kepemimpinan Destry adalah menjaga stabilitas nilai tukar mata uang garuda. BI berkomitmen mengawal nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp17.500 per dolar AS, sejalan dengan asumsi makro dalam Rancangan APBN.
Namun, Destry tidak menampik bahwa tantangan yang dihadapi sangat kompleks akibat dinamika ketidakpastian pasar keuangan global.
“Dengan tingkat ketidakpastian global yang masih tinggi, nilai tukar rupiah kita sejatinya menghadapi tekanan yang cukup besar,” imbuhnya.
Berdasarkan data Bloomberg pada perdagangan Rabu (2/9/2026), nilai tukar rupiah terkoreksi tipis 0,11 persen atau melemah 19 poin ke level Rp17.763 per dolar AS, dengan akumulasi pelemahan mencapai 6,49 persen sejak awal tahun (year-to-date).